Menikmati Atmosfer Sejarah Sumpah Pemuda di Museum Sumpah Pemuda

"Astaghfirullah, kaget saya. Saya kirain mas Vino"
"Bukan mas. Hahaha"

Untuk kesekian kalinya, saya dibilang mirip sama Vino G. Bastian. Setelah sebelumnya tukang bakso disekitaran jalan braga yang bilang, kali ini abang-abang gojek di Jakarta. Belum lagi teman-teman di kampus yang kadang suka mengejek saya dengan Vino. Apa semirip itu ya? Mau dong kalo gantengnya yang mirip.

Sekitar jam satu siang, saya memesan gojek untuk pergi ke Museum Sumpah Pemuda yang terletak di Jalan Kramat Raya No. 106 Jakarta Pusat. Saya pergi sendirian, karena pada saat itu abang saya sedang tidak mau diajak keluar.

anyway...

Museum Sumpah Pemuda yang saya datangi ini terlihat sepi pengunjung. Begitu saya membeli tiket, saya hanya melihat satu orang pengunjung saja. Bahkan, ketika saya baru lima menit di dalam, satu orang pengunjung tadi telah selesai melakukan kunjungan. Alhasil, saya benar-benar sendiri di dalam. Memang saya ditakdirkan untuk selalu sendiri.

Mari kita bicara sejarah Museum Sumpah Pemuda ini....

Jadi, dahulu museum ini merupakan rumah tinggal dari Sie Kong Liang. Gedung ini didirikan pada awal abad ke-20 dan sejak tahun 1908 Gedung Kramat, para pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) dan RHS (Rechts Hooge School) menyewa rumah ini. Bisa dibilang sih semacam nge-kost. Beberapa tokoh penting ketika masih mahasiswa pernah tinggal di tempat ini diantaranya adalah, Amir Sjarifoedin, Muhammad Yamin, Soerjadi (Surabaya), Soerjadi (Jakarta), Assaat, Abu Hanifah, Abas, Hidajat, Ferdinand Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali, Mohammad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana.

Gedung Sumpah Pemuda ini juga disebut sebagai Gedung Kramat 106, karena gedung ini terletak di Jalan Kramat No. 106. Sejak dahulu, gedung ini sering dijadikan sebagai tempat untuk melakukan pergerakan oleh berbagai organisasi. Tak hanya itu, Founding Father kita Ir. Soekarno sering hadir di Gedung Kramat 106 guna untuk membicarakan langkah-langkah perjuangan.

Koleksi museum terdiri atas benda-benda yang berhubungan dengan peristiwa Sumpah Pemuda, diantaranya berupa foto kegiatan organisasi pemuda, bendera organisasi, biola W.R. Supratman, diorama tokoh, Vespa, lukisan, lampu gantung dan lain-lain. Koleksi-koleksi ini ditata mengikuti kronologis peristiwa Sumpah Pemuda, yakni Ruang Pengenalan, Ruang Pertumbuhan Organisasi Kepemudaan, Ruang Kongres Pemuda Indonesia Pertama, Ruang Kongres Pemuda Indonesia Kedua, Ruang Indonesia Muda, Ruang PPPI, dan Ruang Tematik.

Begitu saya masuk ke museum, saya langsung celingak-celinguk memperhatikan koleksi-koleksi yang ada. Di bagian depan ketika baru memasuki museum, terdapat beberapa poster tulisan mengenai sejarah awal tercetusnya sumpah pemuda.

Di ruangan selanjutnya, saya mendapati diorama tiga orang tokoh pemuda sedang duduk dan berdiskusi santai sambil membaca buku yang berbahasa Belanda. Saya tidak tahu siapa orang-orang tersebut. Namun, jika dilihat dari raut wajahnya, mereka semua kelihatan sedih. Mungkin karena Raisa udah tunangan sama Hamish ya.


Informasi-informasi mengenai tiap ruangan beserta dioramanya terdapat di dinding-dinding ruangan. Jadi, kalau kesini, pastikan untuk membaca tulisan-tulisan poster yang terdapat di dinding.

Alur selanjutnya ialah ketika kita berbelok ke kiri. Disitu terdapat diorama seorang tokoh dengan radio lawas, Untuk mengetahui sejarahnya, lagi-lagi kita bisa melihat tulisan-tulisan disekitar dinding.

Ruangan favorit saya di museum ini adalah di ruangan tengah. Disini terdapat diorama para tokoh -tokoh pemuda sedang duduk dan dengan syahdu mendengarkan W.R. Supratman sedang bermain biola. Bagi yang belum tahu, W.R. Supratman merupakan orang yang menciptakan lagu Indonesia Raya loh. Untuk informasi selengkapnya mengenai W.R. Supratman, bisa membaca postingan saya ketika mengunjungi Museum W.R. Supratman disini.




Teks lagu Indonesia Raya, teks Sumpah Pemuda, serta biola asli yang digunakan W.R. Supratman juga terdapat di museum ini. Pokoknya, informasi mengenai W.R. Supratman sangat lengkap. Makanya, kalau datang ke museum ini, wajib hukumnya untuk membaca tulisan-tulisan yang ada. Karena, informasi yang terdapat di tulisan itu sangat bermanfaat.

Biola asli yang digunakan W.R. Supratman
Di bagian belakang museum, terdapat relief-relief yang bagus untuk dijadikan spot foto. Tapi, biar lebih bermanfaat, jangan lupa baca informasinya juga ya. Karena, kalau kita membaca informasinya, kita akan menemukan benang merah dari kunjungan kita ke Museum Sumpah Pemuda ini.

Jujur, sebenarnya saya ingin banyak berfoto dengan koleksi-koleksi yang ada di museum. Tapi, apalah daya... karena saya datang sendirian, jadi tidak ada yang bisa mengambil foto saya. Alhasil, saya nyuri-nyuri kesempatan kepada penjaga loket untuk difotoin atau meminta tolong pengunjung untuk fotoin saya.

Dengan mengunjungi Museum Sumpah Pemuda, kita bisa merasakan atmosfer perjuangan dari para tokoh-tokoh pemuda dalam memperjuangkan dan menyatukan Indonesia. Sebagai tempat dari penyelenggaran Kongres Pemuda Kedua pada tanggal 27-28 Oktober 1928 yang dilaksanakan di tempat ini, wajar saja aroma-aroma perjuangan sangat terasa. Ditambah lagi dengan lantai-lantai bermotif serta koleksi-koleksi yang umurnya sudah sangat tua.

Lokasi Museum Sumpah Pemuda sangat strategis. Terletak di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat. Akses untuk ke museum ini juga gampang, mudah dijangkau oleh kendaraan umum ataupun pribadi. Harga tiketnya pun sangat murah. Untuk umum dikenakan biaya Rp. 2000. Untuk orang asing seperti saya (wajah saya seperti oppa oppa di Korea) maka saya dikenakan biaya Rp. 10.000. Untuk waktu kunjungan mulai dari hari Selasa-Minggu mulai pukul 08.00-16.00 WIB.

“Membaca sejarah adalah cara menemukan harapan. Harapanlah yang membuat kita rela dan berani melakukan kebajikan-kebajikan hari ini, walaupun buah kebajikan itu akan dipetik oleh mereka yang baru akan lahir esok hari.” ― Muhammad Anis Matta, Gelombang Ketiga Indonesia

1 comment:

Post a Comment