Beruntung

Memulai kehidupan sebagai seorang perantau susah-susah gampang. Perjalanan ini dimulai kira-kira empat tahun yang lalu, ketika saya menjalani kehidupan di sebuah kecamatan kecil bernama Jatinangor. Lingkungan yang sangat berbeda dengan kota asal saya membuat saya harus beradaptasi dengan cepat dengan daerah ini.

Hampir empat tahun saya sudah berada di Jatinangor. Sebuah kecamatan kecil yang berdebu akibat banyak truk lalu lalang. Memililki mall yang kecil namun menjadi kebanggaan para mahasiswa karena hanya satu-satunya di Jatinangor.

Sekarang, saya sudah menyelesaikan studi saya. Artinya, dalam beberapa bulan ke depan, saya akan meninggalkan Jatinangor. Lebih dari itu, saya akan meninggalkan kenangan yang ada bersama sahabat-sahabat saya disini. Kalau berfikir seperti itu, kadang saya merasa rentan galau...

Seminar Usulan Penelitian

13 Oktober 2017
Merupakan babak awal dari saya untuk segera meninggalkan kecamatan kecil ini. Hari itu, merupakan hari dimana saya akan melaksanakan seminar usulan penelitian. Malam hari sebelum dilaksanaknannya seminar itu, saya tidak bisa tidur. Baru kali itu, saya merasa sangat gusar dan deg-degan, melebihi deg-degan saya ketika sedang menyatakan cinta kepada seorang wanita.


Alhamdulillah, hari itu terlewati juga.

Sidang Kolokium (Seminar Hasil Penelitian)

27 Maret 2017
Setelah melewati tahapan-tahapan penelitian seperti memelihara tanaman, pengamatan, analisis akhir di laboratorium serta revisi-revisian, akhirnya saya dapat melakukan sidang kolokium. Tidak seperti di seminar usulan penelitian yang gusar dan deg-degan, kali ini saya lebih santai. Saya tidur nyenyak sekali bahkan di malam sebelumnya saya hanya baca-baca twitter serta nonton video di youtube.

Untuk masalah konsumsi, saya dibantu oleh teman sepenelitian saya Isan. Dia membantu saya membeli makanan untuk para dosen pembimbing dan penguji saya. Rahmat, teman sepenelitian saya membantu saya dalam mengantar ke kampus. Sedangkan Dewi, saya meminta tolong ke dia untuk menjadi notulen dalam seminar saya karena dia cekatan dan sudah berpengalaman menjadi notulen. Alasan lainnya sih karena biar dosen-dosen terpesona oleh wajahnya :))

Alhamdulillah, sidang kolokium pada saat itu berjalan lancar, walaupun salah satu dosen penguji saya ada yang diganti karena tidak dapat hadir.



Sidang Skripsi (Sidang Komprehensif)

10 April 2017
Matahari terbit seperti biasanya, tidak ada suara burung-burung berkicau, yang ada hanyalah suara keheningan. Pagi hari pukul 07.00 WIB, saya sudah mandi dan sudah bersiap-siap untuk hari ini. Pagi itu, saya hanya mengotak-atik handphone, tidur, dan tak lupa membaca yasin seperti yang diperintahkan oleh mama saya.

Setelah sampai di kampus, perasaan deg-degan mulai muncul. Tapi, deg-degan kali ini tidak separah sewaktu saya sedang seminar usulan penelitian. Sebelum sidang dimulai, saya ditemani oleh Rahmat dan Isan di dalam ruang sidang.

Alhamdulillah, sidang skripsi saya berjalan dengan lancar. Waktu yudisium, saya sudah berjanji kepada diri saya untuk tidak menangis. Walaupun ada beberapa bagian ketika saya mengucapkan sambutan setelah sarjana yang membuat hati saya mencapai klimaks.

Rasanya, saya sangat beruntung memiliki dosen pembimbing dan penelaah seperti mereka. Tidak ada yang bisa mengalahkan kebaikan dari dosen pembimbing 1 saya yaitu bu Maya Damayani. Seorang ibu yang sangat sabar serta selalu memotivasi saya. Kalimat yang membuat saya semakin termotivasi adalah "Kalian cepat lulus ya, selagi ibu masih sehat".

Tak lupa juga kepada bu Anni Yuniarti sebagai pembimbing 2 yang selalu ramah dan penuh senyuman ketika sedang bimbingan. Setiap bimbingan selalu bilang "Udah langsung maju sidang aja, jangan lama-lama".

Terakhir kepada dosen penelaah sekaligus dosen wali saya yaitu bu Intan yang selalu memberikan nasihat-nasihat positif dari awal saya masuk kuliah. Semoga ibu dilancarkan juga dalam studinya. Saya berterima kasih juga kepada pak Daud Siliwangi yang membantu dalam menyempurnakan skripsi saya.


Allah memang punya rencana yang indah kepada saya. Semua ini pasti berkat kekuatan doa.

Untuk teman sepenelitian, yaitu Isan dan Rahmat. Isan yang membantu dalam mengolah data penelitian saya, dan ketika ada masalah dia pasti akan berusaha untuk tidak panik dan segera mencari solusinya. Rahmat yang selalu menjadi juru bicara dalam menghadap dosen dan selalu berani mengungkapkan langsung pikirannya ke dosen. Akhirnya kita selesai juga ya!









Di masa-masa pengerjaan skripsi, saya ditemani oleh beberapa sahabat-sahabat saya, terutama sahabat pakcoy. Buat Dewi, Ebi, Adit, Alvin, tetap semangat penelitiannya! Walaupun mungkin waktu kalian sedang membaca ini, kalian sudah sarjana :)) (Mungkin aja kalian baru baca).

Lebih enak mana? Ketika sedang menjadi mahasiswa atau setelah lulus?

"Sewaktu menjadi mahasiswa memang ribet dan repot sih, tapi beban pikirannya tidak seberat ketika sudah lulus"

Karena, bagi beberapa orang solusi adalah awal dari sebuah masalah.

TERIMAKASIH SEMUANYA!







Punya teman seperti kalian?
Saya beruntung...

1 comment:

Post a Comment