Hadir Dalam Prosesi Upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon

Tiba-tiba hujan semakin deras. Sore itu, kami baru saja pulang dari sebuah tempat nongkrong di Cirebon sehabis mengunjungi Cirebon Waterland Ade Irma Suryani. Saya bersama Rahmat dan Dani berada di mobil menunggu Isan dan Adit yang sedang mengambil undangan dari keraton.

Undangan apa itu?

Yang pasti bukan undangan pernikahan. Undangan yang dimaksud disini adalah undangan untuk memasuki serta menyaksikan secara langsung prosesi upacara panjang jimat di keraton kasepuhan Cirebon.

Undangan ini dapat diperoleh berkat ibunya Isan. Ibunya Isan mempunyai teman yang merupakan adiknya dari istri sultan di keraton. Hujan yang semakin deras membuat Isan dan Adit menjadi lebih lama mengambil undangan di keraton.

Mendekati waktu maghrib, akhirnya Isan dan Adit kembali ke mobil dengan basah kuyup. Payung tidak sanggup menerima cipratan-cipratan hujan dari samping. Di dalam mobil, kemudian Isan mengeluarkan 3 buah undangan berwarna coklat yang dilapisi plastik.

Permasalahan selanjutnya adalah: di undangan tertulis para undangan wajib menggunakan pakaian batik atau formal. Sedangkan kami semua hanya membawa baju kaos selama berada di Cirebon. Betapa gembelnya kami pada hari itu jika ke keraton hanya menggunakan kaos.

Kami kembali ke rumah Adit untuk mengganti baju yang sebagian besar sudah basah kuyup. Sementara itu, Adit dan mamanya mencari baju batik yang ada untuk dipakai oleh kami. Akhirnya, masing-masing dari kami pergi ke keraton dengan menggunakan baju batik milik Adit. Kecuali Dani, yang menggunakan baju batik ayahnya Adit. (Efek badan Dani yang besar daripada yang lain).

Perjalanan menuju ke keraton kasepuhan Cirebon cukup lancar. Kami parkir di tempat yang agak jauh dari keraton akibat dari penuhnya mobil serta keramaian di daerah keraton. Dengan mengenakan setelan batik dan memegang payung, kami berjalan sekitar 15 menit untuk sampai di depan keraton. Disepanjang jalan menuju keraton kasepuhan berjejer di sebelah kanan dan kiri tenda-tenda toko yang menjual segala jenis makanan, pakaian, serta barang-barang. Sungguh, melewati pasar itu seperti mengikuti acara benteng takeshi. Penuh dengan rintangan orang-orang serta jalanan yang becek akibat hujan. Bedanya, disini tidak ada orang yang teriak: "Doakan aku ya!" atau "Ayo maniis, ayoo maniis."

Untuk memasuki wilayah keraton, kita harus memiliki undangan. Sebuah pintu pagar kecil yang dijaga oleh dua orang akan memeriksa undangan sebelum kita memasuki wilayah keraton. Pada tahap ini, kami semua bisa masuk dengan mudah. Dibelakang kami banyak orang yang mengantri untuk bisa masuk. Namun, yang mempunyai undangan yang diutamakan terlebih dahulu.

Setelah memasuki wilayah keraton, permasalahan kedua muncul. Ternyata, sudah banyak orang yang berjejer di depan pintu masuk keraton hingga meluber sampai ke halaman kanan dan kiri. Kami yang mulai bingung menanyakan kepada orang sekitar bagaimana bisa masuk ke keraton.

"Oh, harus punya undangan dulu mas" Ucap salah satu penjaga keraton dengan tegas.

Kami menunjukkan undangan tersebut. Dia melihat undangan kami dengan teliti dengan seksama. Saya juga tidak tahu alasan dia melihat undangan itu dengan teliti. Mungkin di pikirannya kami mempunyai undangan palsu dan kami ini adalah anggota pemberontak yang akan menggagalkan acara.

"Mingir-minggir, undangan mau lewat. Tolong ya pak, bu, kasih jalan."

Saya tidak menyangka penjaga tersebut bakalan memberi jalan dengan meminta para warga sekitar untuk minggir. Seperti sungai nil yang membelah dua dengan tongkatnya nabi Musa A.S. dengan mudahnya kami berjalan menuju pintu utama keraton. Kami merasa dianggap sebagai pejabat penting. Saking sombongnya, saya kepingin nyanyi lagunya Raisa yang bye-bye sambil dadah-dadah kepada para warga yang tidak bisa masuk keraton.

Kemudian kami melenggang masuk hingga ke ruang utama prabayaksa. Sebelum masuk, kami sempat diperiksa oleh bapak-bapak berumur sekitar 50-an dengan pakaian putih-putih. Mungkin karena tampang kami tidak meyakinkan sebagai tamu kehormatan di ruangan prabayaksa ya.

Lima menit setelah kami duduk, upacara panjang jimat pun dimulai. Kami duduk bersebrangan dengan Sultan Cirebon. Di ruangan itu, terdapat beberapa tamu penting seperti Kapolda, bupati, pejabat instansi pemerintah, ulama, serta tamu dari pihak swasta lainnya.



Prosesi Panjang Jimat

Upacara panjang jimat sudah lama dilaksanakan oleh masyarakat Cirebon. Setiap tahun, upacara ini rutin dilaksanakan pada malam 12 Rabiul Awal atau maulid, yakni hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tempat-tempat dilaksanakannya panjang jimat ini adalah di keraton Cirebon yang terdiri dari Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan serta di kompleks makam Sunan Gunung Jati.

Keraton kasepuhan merupakan salah satu keraton yang menyelenggarakan panjang jimat terbesar. Maka tak heran banyak masyarakat Cirebon yang berbondong-bondong datang ke Keraton Kasepuhan ini.

Bagi masyarakat Cirebon, selain banyaknya pasar kaget yang ramai di depan keraton, upacara panjang jimat merupakan suatu hal sakral yang harus dimaknai dengan benar. Karena, tujuan dilaksanakannya panjang jimat ini untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW serta melestarikan budaya yang sudah ada sejak turun temurun.

Proses upacara panjang jimat ini terdiri dari 12 rangkaian yang melambangkan 12 Rabiul Awal yakni kelahiran Nabi Muhammad SAW:

1. Abdi masjid agung yang terdiri dari dua orang pria berjalan beriringan sambil membawa piring. piring-piring tersebut melambangkan dua kalimat Syahadat.

2. Setelah dua orang pria pembawa piring berjalan, diikuti oleh dua orang pria lagi yang membawa sejenis termos berisi bir. termos melambangkan wadah untuk menampung darah selama proses kelahiran sedangkan bir sendiri melambangkan sebagai darah yang keluar selama proses kelahiran. kemudian seorang pria membawa pendil yang berisi sega wuduk (Nasi Uduk) yang melambangkan betapa susahnya melahirkan. selanjutnya dibelakang orang yang membawa nasi uduk tadi berjalan pula seorang pria yang membawa nasi Jeneng, tumpeng, dan bekakak ayam sebagai simbol syukur atas lahirnya bayi dengan selamat. 

3. Tiga bagian terakhir sebagai penutup dari segala prosesi adalah iring-iringan rombongan yang membawa capon (bakul) yang melambangkan 4 sifat nabi Muhammad yatu sidiq (cerdas), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), Fathonah (pintar) dan 4 sifat yang tidak dimiliki oleh nabi yaitu Kidzib, Khianat, Kitman dan Baladah.

4. iring-iringan berikutnya terdiri dari rombongan yang membawa 4 tenong (sejenis wadah besar bundar yang terbuat dari anyaman bambu) yang melambangkan 4 sahabat nabi yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

5. Dan iring-iringan terakhir terdiri dari beberapa orang yang memanggul 4 dongdang (sebuah wadah yang menyerupai keranda yang diusung oleh 2 orang dengan cara dipanggul di masing-masing ujungnya) yang melambangkan empat mazhab besar islam yaitu Maliki, Syafi'I, Hanafi dan Hanbali.


Bersalaman Dengan Sultan

Pukul sepuluh malam, upacara panjang jimat telah selesai dilaksanakan. Upacara panjang jimat ternyata berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan oleh papanya Adit. 

Semua tamu undangan yang hadir kemudian berdiri untuk menyalami Sultan Kasepuhan XIV, yaitu Pak Arif Natadiningrat. Para undangan yang berada di ruang prabayaksa diutamakan terlebih dahulu untuk bersalaman dengan sultan. Kemudian dilanjutkan dengan undangan yang berada di luar ruang prabayaksa.

mengantri salaman dengan sultan
Masyarakat Cirebon rela mengantri berjam-jam untuk bisa salaman dengan sultan. Mereka percaya dengan menyalami sultan akan diberi kemurahan rezeki dari Allah SWT. Tradisi salaman dengan sultan ini memang menjadi salah satu bentuk acara setelah upacara panjang jimat dilaksanakan.


Setelah mengantri salaman lima menit, kami berhasil salaman dengan sultan. Rencananya, kami mau minta foto, namun antrian masih panjang ke belakang. Kami bakalan mengganggu para pengunjung yang rela mengantri berjam-jam dibelakang demi bersalaman dengan sultan. Niat itu kami urungkan dan langsung keluar dari ruang prabayaksa.

Hadirnya kami dalam upacara panjang jimat memang tidak ada pengaruh apa-apa bagi keraton kasepuhan Cirebon. Kami hanya sebagian orang beruntung yang mendapatkan undangan. Namun, dari acara ini, kami melihat masyarakat Cirebon masih peduli dengan tradisi yang sudah dilakukan dari zaman dahulu. Bahkan, orang dari luar Cirebon juga banyak yang datang untuk menyaksikan upacara panjang jimat secara langsung.

Manfaat bagi kami?

Seabagai anak muda yang masih peduli dan mau datang untuk menghadiri upacara panjang jimat.

1 comment:

Post a Comment