Taman Simalem: Persinggahan Terakhir

Tiga hari sebelum kembali ke Bandung, aku mengajak temanku Zharfan untuk pergi ke salah satu tempat destinasi terbaik di Sumatera Utara, Taman Simalem.

Niat awal mau kesana adalah karena ada temanku Lamza yang sedang magang di Medan. Jadi, aku mau ngasih tahu dia kalau di Sumatera Utara ada tempat yang pemandangannya sangat bagus dan menghadap ke Danau Toba. Ya, Taman Simalem. Dan sejujurnya, aku juga belum pernah datang kesana :)).

Selesai absen di tempat magang aku dan Lamza langsung berangkat ke rumah Zharfan. Farhan juga sudah nunggu di rumah Zharfan. Kami menunggu Zharfan mandi dan berdandan. Sekitar pukul 10 pagi, barulah kami pergi ke Taman Simalem.

Awalnya, perjalanan menuju kesana sangat lancar. Sampai di tengah-tengah perjalanan, ada sebuah kemacetan panjang dikarenakan ada kecelakaan truk terguling. Kami memutar balik ke arah pulang dan mengubah haluan menuju Taman Buaya Asam Kumbang. Memang jauh kali sih tujuannya. Dari Simalem tempat melihat pemandangan yang sangat indah, malah menjadi melihat buaya-buaya kelaparan.

Buaya darat vs buaya beneran
Entah apa yang merasuki kami berempat hingga mengubah haluan ke Taman Buaya Asam Kumbang. Yang jelas, pada saat itu semua kecewa gara-gara gagal melihat pemandangan di Simalem. Untungnya, kami menikmati pemandangan buaya-buaya yang kelaparan. Malah kami tercengang ada buaya yang sangat besar yang umurnya sudah 60 tahun-an.

Buaya ini umurnya udah 60 tahun-an.
Malamnya, kami pergi ke Yuki Simpang Raya untuk main biliard dan bowling. Lumayanlah, hari itu jadi produktif.

Cara bermain bowling yang baik dan benar
Keesokan harinya, kami mencoba pergi ke Taman Simalem lagi. Sebelum pergi, aku mengecek twitter dengan kata kunci "Berastagi terguling". Untungnya, ada yang mengabarkan kalau jalan ke Berastagi sudah lancar. Alhamdulillah...

Kami sempat shalat Jumat di tengah perjalanan. Biar aman dan selamat sampai Simalem. Eaa.

Jalan menuju Taman Simalem sangat rapi, sepi, bersih, dan pemandangannya asoy! Ibarat ngeliat cewek chubby, sambil senyum, terus lagi ngiketin rambut. Segar.

Harga masuk ke Taman Simalem adalah Rp. 200.000 untuk satu mobil. Dengan teknik pembayaran patungan, kami membayar ke mbak-mbak di pos Rp. 50.000/orang. Lalu. mbak-mbak di pos tiket memberikan tiket dan peta di Taman Simalem tersebut.


Setelah melihat peta, barulah kami mulai mengeksplorasi wilayah ini, yaitu:

1. Labirin

Bisa dibilang, kami datang ke Taman Simalem di waktu yang tepat. Cuacanya lumayan cerah. Jadi, bisa foto-foto remaja kekinian,

"Gilaa, bagus banget! Gak nyesel datang kesini" Sahut Lamza yang baru pertama kali ke Taman Simalem.

Padahal aku juga baru pertama kali sih :))

Di dalam Taman Simalem, juga terdapat labirin yang terbuat dari daun-daun. Kami berempat nyoba masuk ke labirin tersebut, dan sukses terjebak. Untungnya, setiap terjebak, ada spanduk pemberitahuan untuk mencari jalan yang lain. Beda dengan terjebak masa lalu. Kalo terjebak, gak dikasih pemberitahuan.


2. Lapangan Golf dan Kuil

Dari semua tempat, yang paling aku suka itu pemandangan dekat kuil. Itu pemandangannya parah banget kerennya. Sumpah!

Pemandangannya langsung menghadap ke danau. Kesempatan ini aku gunakan untuk berfoto dengan gaya aneh. Tapi, yang aku masukin yang gak terlalu aneh ya. takutnya ntar langsung muntah.

Di tempat ini, kami berpencar menjadi dua kelompok. Aku sama Farhan, dan Lamza dengan Zharfan. Semuanya sibuk dengan kamera masing-masing. Ada yang foto pemandangannyalah, ada yang foto dengan gaya absurd, ada yang cuma lihat penampakannya aja. Penampakan hantu.



Di tahap saling memegang kamera masing-masing, ada saatnya kita ingin berfoto beramai-ramai. Tahap inilah tahap paling menyakitkan, dimana salah satu dari kami harus ada yang tidak ikut berfoto.


Ini yang foto si Farhan. Untung Aku, Lamza, dan Zharfan masih baik. Selesai foto, kami akhirnya gantian. Sekarang, si Farhan di foto. Tapi dia sendiri, kami yang fotoin dia rame-rame.

Ketika berada di kuil, terdengar suara-suara burung bercampur suara seperti rohani. Sepertinya, itu sengaja diputar melalui kaset. Kuil ini besarnya minta ampun. Dan yang paling keren, kuilnya langsung menghadap ke Danau Toba. Awalnya, aku agak takut juga masuk ke dalam kuil itu. 


Kami juga sempat berada di daerah lapangan golf yang luas. Tempatnya bener-bener bersih dan hijau. Seandainya aja di kosan aku ada halaman seluas dan sehijau ini, pasti aku akan..... tetap di kosan. Ngapain juga panas-panasan di halaman.


3. Air terjun

Walaupun air tejunnya kecil, disini kita bisa merasakan keindahannya. Percikan-percikan kecil dari air terjun tersebut membuat tubuh kita menikmati kesegaran alam disini. Daerah air terjun ini merupakan daerah tempat outbound


4. One Tree Hill

One Tree Hill merupakan salah satu objek wisata yang terdapat di Taman Simalem. Letaknya berada diatas. Jika tidak membawa kendaraan, pasti kaki kita akan buntung. Kami sempat tersesat dan menanyakan dimana letak One Tree Hill kepada para pejalan kaki. 

"Oh, diatas, terus aja gakusah belok-belok" Kata salah seorang rombongan.
"Makasi ya bang" Jawabku. Iya kali aku kayak Saiful Jamil yang udah belok.

Letaknya lumayan jauh. Sepanjang jalan, jalannya becek lagi. Tapi, pemandangannya...... HAP HAP!

Parah pemandangannya!
Kami bingung, dimana letak pohon yang disebut-sebut One Tree Hill?

Ternyata, Bukitnya itu tidak terlalu tinggi. Memang sih terdapat satu pohon di bukit tersebut. Perlahan-lahan kami menaiki tangga yang terbuat dari bambu untuk sampai ke bukit yang tingginya tidak seberapa itu. Diatas sana, aku benar-benar menikmati pemandangan yang benar-benar menakjubkan. Kami berempat bercengkrama seperti anak laki-laki lainnya ketika sedang berkumpul. Banyak yang kami bicarakan. Mulai dari urusan kuliah, candaan, hingga membicarakan cewek cantik yang sedang berpura-pura berfoto di depan kami. Ya, dia ngasih kode kalau dia juga ingin naik ke One Tree Hill.

One Tree Hill merupakan tempat persinggahan terakhir kami di Taman Simalem. Jam sudah menunjukkan pukul 18.56 WIB, dan kami bersiap untuk pulang. Hari itu juga merupakan hari terakhir jalan bareng selama di Medan dengan teman lama SMA-ku, Farhan dan Zharfan. Farhan teman sebangku selama tiga tahun di SMA, sedangkan Zharfan teman sekelas selama sepuluh tahun. 


Hari itu juga merupakan hari terakhir aku dan Lamza berada selama di Medan. Dan setelah postingan ini dibuat, aku malah sudah jarang jumpa dan bareng sama Lamza. Ya, kami sudah sibuk dengan kesibukan masing-masing.

No comments:

Post a Comment