Museum Nasional Indonesia a.k.a Museum Gajah


Siang itu aku bersama adikku seperti kehilangan arah. Kami baru saja melihat keindahan Kota Jakarta dan melihat diorama-diorama sejarah yang menembus pikiran di monas. Di saat-saat seperti ini, kami hanya berjalan di pinggiran trotoar jalan bersama motor yang mengambil hak pejalan kaki di jalan Medan Merdeka Selatan.

Kami berjalan sampai Stasiun Gambir. Membeli minuman segar sambil bersantai sejenak di Alfamart hingga waktu shalat Jum'at tiba. Walaupun kami bisa tidak untuk melaksanakan shalat Jum'at, kami tetap melaksanakannya.

Aku diberitahu oleh abangku kalo mau ke Monas, sekalian aja pergi ke Museum Gajah. Selain letaknya yang dekat dengan Monas, Museum Gajah juga memiliki koleksi yang lengkap.

Setelah shalat Jum'at selesai, kami segera pergi ke Museum Gajah. Berbekal wifi dari Alfamart, aku mencari lokasi dimana letak Museum Gajah. Dan, yang paling aku kejutkan dari penelusuranku di sebuah halaman website adalah Museum Gajah ternyata bernama Museum Nasional Indonesia. Lantas, kenapa bisa dinamakan Museum Gajah?

Berdasarkan yang aku baca dari internet, asal penyebutan nama Museum Gajah dikarenakan di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu. Katanya, patung tersebut merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn dari Thailand yang pernah berkunjung ke Museum Nasional Indonesia pada tahun 1871.

"Jadinya kita mau naik apa ini?" Tanya aku kepada adikku dengan muka setengah kelelahan. Kami sudah berjalan cukup jauh dari tempat awal kami berada, Stasiun Gambir.

Memang awalnya kami mau naik taksi saja. Namun, tidak ada supir yang memberhentikan mobilnya untuk menaikkan penumpang. Sekalinya kosong, malah supir taksinya yang tidak tahu dimana Museum Nasional berada.

Hingga ada satu taksi yang rela memberhentikan mobilnya. Kami hanya membayar Rp. 7500 karena memang jaraknya yang sangat-sangat dekat. Karena, jarak yang jauh itu hanya jodoh.

Harga tiket untuk masuk ke Museum Nasional ini sebesar Rp. 5000 per orang. Tentunya ini merupakan harga yang sangat murah untuk melihat koleksi-koleksi yang terdapat di Museum Nasional. Mengapa aku bisa katakan ini sangat murah?

Koleksi yang terdapat di Museum Nasional ini berjumlah 141.899 benda yang terdiri dari beberapa jenis koleksi seperti prasejarah, arkeologi, keramik, numistik-heraldik, sejarah, etnografi, geografi, dan lain-lain. Dengan kata lain, Museum Gajah atau Museum Nasional Indonesia ini merupakan museum paling lengkap di Indonesia!

Sebelum masuk ke museum, kita diharuskan untuk menitipkan tas dan barang bawaan kita di sebelah loket tiket. Ini adalah pertama kalinya aku menitipkan tas ketika berada di museum. Pengamanan di Museum ini memang ekstra ketat. Wajar saja, koleksi artefak-artefak di museum ini sangat lengkap. Artefak-artefak disini selalu menjadi incaran bagi para pencuri.

Hal yang pertama kali aku lihat adalah halaman yang terdapat di tengah Museum Nasional. Lalu aku memasuki ruang prasejarah dimana menceritakan tentang masa prasejarah, ruang keramik dimana tempat koleksi-koleksi keramik dipamerkan, ruang rumah adat dimana tempat koleksi rumah-rumah adat yang ada di Indonesia dan ruang etnografi yang menyajikan benda-benda atau hasil budaya dari berbagai suku-suku di Indonesia.


Dari sumber yang aku dapatkan, koleksi-koleksi yang ada di Museum Nasional ini dikumpulkan pada masa pemerintahan kolonial Belanda abad ke-19. Sewaktu museum ini sedang mengumpulkan koleksi-koleksinya, kita masih berada di dimensi yang lain.

Kelebihan utama di Museum Nasional ini adalah perangkat-perangkat pendukung untuk memamerkan museum sudah menggunakan teknologi yang canggih. Kita bisa menonton dan mendengarkan penjelasan dari sebuah layar monitor. Di gedung B atau biasa disebut gedung arca sudah dilengkapi dengan eskalator dan lift di setiap lantainya. Jadi, kalo kalian ingin berkunjung ke sini, jangan takut capek!


Udah ada eskalator!
Beberapa kali aku terkesima dengan koleksi-koleksi yang ada. Segala jenis prasasti ada disini. Tak terkecuali Prasasti Mulawarman. Dulu waktu masih SMP, aku cuma bisa lihat prasasti itu di buku-buku sejarah. Dan sekarang, benda itu ada di hadapanku.



Aku bersama adikku tidak terlalu banyak berfoto di museum ini. Dikarenakan, ada anak-anak SD lagi melakukan kunjungan ke museum. Anak-anak ini suka ngikutin kalo aku mau foto koleksi museum. Jadinya aja aku malas foto banyak-banyak. Mungkin, ini beberapa koleksi yang dapat aku abadikan



Replika sigale-gale



Masa katanya ini kuburan...
Aku bersama adikku hanya berada disana selama satu jam setengah. Dengan melihat ruangan yang luas dan koleksi yang melebihi 140.000 buah, tentunya dengan waktu kunjungan kami yang hanya sebentar, kami tidak akan bisa melihat keseluruhan koleksi. Maka dari itu, untuk mengetahui seluk beluk koleksi-koleksi yang ada, mengunjungi Museum Nasional tidak bisa satu kali. Mungkin, hikmah dibalik banyaknya koleksi di museum ini adalah untuk menyuruh kita agar sering berkunjung ke museum ini.

No comments:

Post a Comment