Beruntung dan Sedikit Menyesal

Malam setelah menonton sinister 2 minggu lalu bener-bener buat aku capek. Gimana gak capek, di setiap ada adegan hantu keluar atau musik yang mengejutkan aku selalu teriak dan mengangkat kaki. Ngangkat kakinya tinggi-tinggi lagi. Udah kayak olahraga lah pokoknya.

Biasanya aku kalo nyampe kosan pasti selalu buka laptop untuk streaming variety show atau sekedar liat-liat subscription di youtube. Tapi, malam setelah nonton bareng teman-teman, aku bener-bener gak punya tenaga lagi buat sekedar ngecek-ngecek apa yang terbaru di youtube.

Jadi, karena aku capek, aku tidur lebih cepat dari biasanya. Kalo gak salah jam sembilan. Yah, bener-bener kepuasan tersendiri bisa tidur cepat jam segitu. Karena tidur cepat, jadinya aku bangun sekitar jam dua-an. Oh ya, kebiasaan sebelum tidur, aku selalu hidupin tv keras-keras. Channel yang sering aku pilih biasanya National Geographic karena naratornya itu bikin suara ngantuk.

Udara malam dengan anginnya yang masuk melalui dari celah-celah kaca jendela membuat aku terbangun. Waktu itu jam dua pagi. Aku minum beberapa teguk lalu mengambil beberapa selimut. Kemudian aku mengganti channel menjadi net tv, karena biasanya kalo pagi-pagi subuh gitu ada acara breakout.

Aku kembali tidur. Seperti biasa, setiap tidur aku selalu bermimpi random. Terkadang, mimpi-mimpi itu berkaitan dengan apa yang kita lakukan sebelum tidur. Mimpi-mimpi itu juga biasanya menggabungkan teman lama kita dengan teman yang baru.

Aku gak ingat lagi mimpi apa waktu itu. Lagi nyenyak-nyenyaknya tidur, tiba-tiba ada suara seperti sendok yang digesekkan di sebuah gelas di otakku. "Kreek". Aku masih setengah sadar sambil membuka mata perlahan-lahan. Lalu, aku melihat ada kepala nongol di atas ventilasi pintu. Aku masih biasa aja, karena masih setengah sadar. Kira-kira 5 detik kemudian aku bener-bener baru nyadar kalo ada orang yang mau buka kaca ventilasi!

Ventilasi yang dibuka kacanya oleh si maling
Aku pura-pura tidur kembali, namun mata tetap melihat aksi dari sang pria itu. Waktu dia telah berhasil mengangkat kaca ventilasi, aku bertatapan mata dengan si pria itu selama dua detik. Aku teriak tidak terlalu keras dengan kalimat: "WOY, SIAPA ITU?"

Si pria yang sekarang bisa disebut 'maling' itu pun langsung turun dan membawa kaca ventilasinya. Beruntung aku bangun disaat-saat yang tepat. Kalo terlambat, mungkin aja dia bisa dapetin kunci, hape, laptop, dan headset aku diatas meja. Sebenarnya sih aku gatau cara dia ngemaling gimana. Tapi, aku pernah dengar dari orang-orang biasanya maling itu beraksi dengan menggunakan jaring dengan tongkat yang panjang. Jaring inilah yang digunakan si maling sebagai alat untuk beraksi.

Aku juga gak mengejar, teriak dan membuka pintu. Antara males ngebangunin warga sekitar dan sebenarnya sih takut aja dia masih ngumpet di sekitar situ. Wahai sang maling, seandainya aku membiarkan dia beraksi sebentar lalu teriak, maka hal tersebut jadi lebih seru. Dia pasti digebukin! Aku menyesal.

Tapi, aku juga bersyukur. Diantara suara yang keras dari tv, -aku masih bisa mendengar suara kaca yang ditarik oleh sang maling. Kalo gak, lenyaplah sudah barang-barang itu seperti kapal yang melewati segitiga bermuda.

No comments:

Post a Comment