4 Area Yang Wajib Dikunjungi di Monas

"Mas, kalo mau masuk Monas darimana ya?"
"Wah, myungkin disitu. ityuh banyak orang ramey-ramey"

Ternyata aku salah nanya orang. Orang yang sedang aku tanya ini ternyata berkewarganegaraan Jepang. Mungkin dia gaktau apa-apa dan Bahasa Indonesianya pun sedikit kurang nyambung.

"Mau masyuk ya! Monas tinggi yah. HAHAHA" Orang Jepang itu tiba-tiba tertawa dengan suara seperti bapak Nobita.

Dengan berbekal badan yang kurus dengan muka yang pas-pasan (malah lebih parah), aku datang ke Monas untuk yang pertama kalinya. Langsung saja aku tinggalkan si orang Jepang yang kerjaannya hanya foto-foto Monas dari luar pagar tanpa masuk kedalamnya. 

Ya, benar. Aku datang ke Monas karena aku belum pernah masuk kedalam dan belum pernah sampe ke atas juga. Walaupun kayaknya kalo orang datang ke Monas itu mainstream, tapi apalah saya ini yang belum pernah masuk Monas.

Aku bersama adekku keliling-keliling monas demi mencari loket tiket untuk masuk ke Monas. Badan dan muka kami udah hampir setengah gosong diterpa matahari yang terik. Apalagi kami ke monasnya pake gojek, yang artinya tangan, kepala dan badan kami terpapar dengan indah.

Setelah keliling, kami melihat ada seorang petugas yang berkumis tipis dengan raut wajah yang agak jutek.

"Oh, masuk terowongan disitu mas, ntar ada loketnya" Si mas-mas ini menunjukkan sebuah tangga yang menurun kebawah. 

Kami turun. Terlihat ada beberapa orang yang mengantri untuk membeli tiket untuk masuk ke monas. Ternyata, di hari Jumat banyak juga orang yang mau masuk ke Monas.

Harga untuk masuk ke Monas bervariasi. Ada yang untuk pelajar, mahasiswa, maupun umum. Demi mendapatkan harga masuk yang lebih murah, aku mengeluarkan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa), jadi, aku hanya mengeluarkan  uang sebesar Rp. 8000.

Dengan delapan ribu rupiah, setidaknya, kita sudah bisa mengunjungi empat area, yaitu:

1. Museum Sejarah Nasional

Museum ini terletak dibawah tanah Monas. Setelah membeli tiket, kita akan melewati sebuah lorong, lalu kita akan masuk kedalam Museum Sejarah Nasional. Karena letaknya di bagian bawah cawan, tak banyak yang tahu tentang museum ini.



Hal yang pertama kali aku lakukan adalah melihat cewek seksi koleksi museum yang sebagian besar berbentuk diorama-diorama. Diorama-diorama patung ini menampilkan sejarah sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia, hingga masa pembangunan di zaman orde baru. Diorama-diorama ini tak kalah menarik dengan diorama-nya Tulus.


Diorama Indonesia bergabung dengan PBB

Diorama yang aku lupa. Aku foto karena ada 3 orang yang lagi berbaring di depan :))

Diorama Konferensi Asia Afrika
2. Pelataran Puncak Monas

Setelah melihat koleksi-koleksi di Museum Sejarah Nasional, aku beserta adikku naik ke atas untuk mengantri lift. Padahal masih pagi, tapi nagntrinya udah lumayan panjang men! Ditambah lagi dengan panasnya Ibukota yang membuat baju seperti disiram oleh air.


Lift untuk menuju pelataran puncak Monas hanya berkapasitas 11 orang. Wajar saja kalo antriannya ramai.


Tak hanya orang Indonesia saja yang ingin melihat Kota Jakarta dari atas, orang dari luar juga banyak. Malahan ada yang menggunakan kursi roda. Bangga rasanya kalo melihat ada orang luar yang tertarik dengan wisata di Indonesia.

Kira-kira sekitar setengah jam mengantri, akhirnya kami naik ke lift juga. Ternyata, di Monas ini hanya memiliki 3 lantai. Lantai pertama tempat awal mengantri , lantai 2 tepat pelataran cawan di bagian atas dan juga terdapat ruang kemerdekaan, dan lantai 3 yaitu pelataran puncak monas.

Untuk sampai ke lantai 3 itu lumayan lama. Bayangin aja, tinggi Monas itu 137 meter, itu kira-kira tinggi 85 orang. Wajar sih.

Ternyata, setelah melihat langsung dari atas, jendela-jendela kecil di pelataran atas ini tidak diberi kaca. Jadi, banyak angin sepoy-sepoy masuk. Di setiap sudut pelataran, ada sebuah teropong yang digunakan untuk melihat kemolekan cewek Kota Jakarta dari atas.

Sepertinya jodoh belum keliatan
3. Pelataran Cawan

Udah gak kerasa, ternyata aku dan adikku sudah berada diatas pelataran puncak selama 45 menit. Udara diatas sepoy-sepoy jadi enak aja keliling-keliling sambil motret-motret cewek dari atas. Selain itu, aku juga suka memperhatikan para pengunjung yang juga berada di atas. Memperhatikan segala ciri dan aktifitas apa saja yang akan dia lakukan di pelataran puncak.

Memang, kegiatanku kurang kerjaan.

Merasa sudah puas berada di atas, kami turun. Aku mengira kami langsung diturunkan ke lantai satu tempat awal kami menaiki lift. Ternyata, kami diturunkan di lantai dua. Lantai dua ini sebenarnya tempat dimana kita bisa melihat pemandangan dari ketinggian 17 meter dari permukaan tanah. Walaupun tidak seperti di pelataran puncak, pelataran cawan mampu membuat kita melihat lebih leluasa, karena kita bisa berjalan di sekitar cawan bagian atas.

Mesjid Istiqlal dari pelataran cawan setinggi 17 meter diatas permukaan tanah
4. Ruang Kemerdekaan

Ruang kemerdekaan terletak di bagian dalam cawan. Di ruangan ini kita bisa melihat berbagai simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia seperti naskah asli proklamasi, peta kepulauan Indonesia berlapis emas, dan lambang garuda berlapis emas.

Sebenarnya, bendera merah putih yang asli ketika proklamasi berada di ruang kemerdekaan ini. Namun, bendera pusaka tersebut kini sudah tidak dipamerkan di museum ini dikarenakan bendera pusa yang keadaannya sudah sangat rapuh. Bendera pusaka kini disimpan di Istana Negara. 

Sayangnya, aku nggak sempat ke ruang kemerdekaan ini karena takut telat untuk shalat Jum'at. Padahal kepingin juga sih berada di ruangan yang katanya bisa buat kita merinding. Katanya, di ruang kemerdekaan akan diputar lagu "Padamu Negeri" yang diikuti dengan suara dari Soekarno.

***
Mungkin terkesan agak lebay. Perjalananku menuju Monas dipenuhi dengan petualangan sejarah dimana aku bisa melihat diorama-diorama, melihat wilayah ibukota dari ketinggian 115 meter diatas tanah, serta melihat keindahan dari pelataran cawan. Akhirnya, aku bisa berada di salah satu ikon kebanggan bangsa Indonesia, Monas...


No comments:

Post a Comment