Apakah Makhluk Seperti Itu Memang Ada?

Sebenarnya aku bingung mau nyeritain kejadian ini di blog apa nggak. 

Minggu lalu, ketika aku sedang asyik-asyiknya ngerjain tugas kuliah (jarang-jarang loh ini) sambil menonton film Stranger Than Fiction di HBO, tiba-tiba listrik di kosan mati. Gara-gara itu, aku langsung keluar untuk mengetahui penyebab listrik mati. 

Listrik mati di kosan memang sudah sering terjadi. Penyebabnya sih keseringan karena pemakaian listrik yang terlalu besar. Kadang, aku suka merepet sambil bisik-bisik sendiri di depan ibu kos kalo listrik udah mati gini. Gimana gak merepet? Udah bayar listrik mahal-mahal, eh listriknya sering mati.

Ternyata, listrik di kosan pada mati karena sekringnya udah agak rusak. Jadi, tombol untuk mengaktifkan sekringnya lagi ada di tetangga kosan aku. Sialnya, dia sedang berada di Bandung dan kamarnya nggak ada kunci cadangan. Jadinya, para penghuni kosan lainnya menunggu kedatangan dari teman kosan aku untuk membuka kamarnya.

Aku pasrah dengan tidur-tiduran sembari menunggu tetangga kosan datang untuk mengaktifkan sekringnya. Nggak banyak yang aku lakukan. Hanya mengotak-atik hape dan membaca modul untuk kuis mata kuliah Teknologi Perbenihan besok dengan keadaan cahaya yang seadanya.

Beberapa menit kemudian, Lamza datang ke kosanku sambil membawa carrier-nya. Dia baru saja selesai mengikuti materi untuk masuk ke sebuah himpunan keprofesian di kampus. Dia menaruh carrier-nya di depan pintu, kemudian dia menyapaku lalu bermain hape diluar sambil sesekali melihat ke dalam kamar kosan aku.

Tiba-tiba dia masuk sambil menghidupkan senter hapenya

"Si Hanif mana?" Katanya sambil kaget.
"Si Hanif memang lagi gak ada di kosan dari tadi" Jawabku.

Aku tertawa dengar ucapan si Lamza. Kirain dia sedang bercanda.

"Eh, serius loh. Tadi urang ngeliat si Hanif lagi main hape di samping maneh"
"Sumpah?" Aku kaget setengah mati. Rasanya ingin segera melarikan diri dari kosan.

Hanif itu adik aku. Kami satu kos-an dan sama-sama kuliah di Fakultas Pertanian. Untuk Lamza yang ngeliat si Hanif di samping aku waktu lagi mati lampu, aku langsung percaya. Soalnya dia memang bisa ngeliat hal-hal yang seperti itu.

Aku gemetar dalam situasi itu. Si Lamza juga. Aku nyuruh si Lamza tetap di kosan aku sampai lampu hidup dan sampai adik aku datang. Ini serius men. Iya kali aku sendirian di kegelapan bersama seseorang yang dilihat si Lamza.

Setelah hidup lampu, kami menetralisir suasana dengan menonton Tv. Kami berpura-pura untuk tidak mengetahui kejadian tadi. Padahal, di pikiran penuh dengan misteri dan ketakutan. Aku juga bilang ke mama aku kejadian ini. Mamaku membalas: "Perasaan iban aja itu". Terus mamaku nyuruh aku sering-sering baca qur'an. Memang sih, beberapa minggu ini aku lagi jarang baca qur'an.

Sekitar 15 menit kemudian si Hanif datang. Aku sama Lamza ceritakan semua yang terjadi ke dia. Ya, aku harus menceritakan kejadian ini agar aku tak memendamnya sendiri. Karena, jika dipendam sendiri, maka perasaan takut akan terus menghantuiku.

Yang paling mengejutkan adalah si Lamza melihat si Hanif memakai baju putih duduk disebelahku waktu sedang mati lampu. Daaan, setelah diselidiki, si Hanif kemarin malam memang sedang memakai baju putih. Jadi, apakah makhluk seperti ini memang ada? Apakah mereka memang bisa menirukan seseorang?

Dari kejadian ini, aku beruntung tidak bisa melihat hal-hal yang begituan. Hikmahnya adalah aku jadi lebih sering baca qur'an sekarang.

No comments:

Post a Comment