Ada Apa Dengan Bahari?

Apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata 'Bahari'?

Mungkin beberapa orang akan memikirkan bahari sebagai warteg, wisata, hingga penyanyi dangdut. Iya tau, yang terakhir itu gak nyambung dan gak lucu. Annisa Bahari.

Ternyata, selain penyanyi dangdut yang menggunakan nama ini, Bahari juga digunakan sebagai nama museum. Museum Bahari terletak di Jalan Pasar Ikan no, 1 Jakarta Utara. Ya, letaknya ini dekat dengan pelabuhan sunda kelapa dan daerah kota tua. Sebelum aku pergi kesana, aku baca di artikel di internet kalo koleksi-koleksi yang terdapat di Museum Bahari berhubungan dengan kelautan. 

Sebenarnya sih aku kurang tertarik dengan koleksi-koleksi yang berhubungan dengan kelautan. Tapi, kata abangku yang sebelumnya udah pernah kesana koleksinya bukan cuma kapal-kapal aja. Ada tentang patung-patung diorama yang bikin suasana museum menjadi hidup.

Setelah sampai disana dengan menggunakan Grab Taxi (dapet potongan 15 ribu!), kami langsung membeli tiket dengan harga lima ribu rupiah. Museum Bahari terletak di seberang jalan dari tempat pembelian tiket. Jadi, pembelian tiketnya tidak langsung di tempat museum,

Sebelum memasuki museum, kami menaiki menara Syahbandar yang letaknya disamping tempat pembelian tiket. Menara ini dulunya berfungsi sebagai menara pemantau bagi kapal-kapal yang ingin masuk ke Batavia. Diatas menara ini, kita bisa melihat jelas kapal-kapal yang ada di pelabuhan sunda kelapa.

Gambar diambil dari atas Menara Syahbandar
Di dalam museum, kami disuguhkan dengan bangunan tua yang sudah sangat jelas ini peninggalan zaman penjajahan Belanda. Menurut yang aku baca, gedung museum ini dulunya merupakan gudang tempat penyimpanan rempah-rempah sebelum diekspor.

Di lantai dua museum, kami disuguhkan dengan banyaknya patung-patung tentang awal kedatangan belanda di Indonesia. Terlihat ada diorama Cornelis de Houtman ketika pertama kali mendarat di Banten.

Diorama negosiasi Cornelis de Houtman dengan penduduk pribumi
Bukan hanya tentang sejarah kedatangan belanda di Pulau Jawa saja yang ditampilkan, melainkan juga kedatangan di pulau-pulau lainnya.

Di museum ini, juga terdapat patung-patung diorama legenda di Indonesia. Seperti misalnya ada patung ratu pantai selatan (nyi roro kidul). Yang lebih bikin suasanya lebih aktif adalah terdapat proyektor yang menampilkan visualisasi dari keadaan yang sebenarnya. Awalnya aku kira ini museum yang bener-bener kuno karena bangunannya yang tua dan tidak terdapat AC. Tapi ternyata museum ini sudah dilengkapi audio dan visual yang memadai!

Ibnu Batutah sang penjelajah asal maroko!
Laksamana Cheng-ho!
Selain diorama patung-patung legenda yang ada di Indonesia, di museum ini juga terdapat diorama patung-patung legenda dari seluruh dunia. Keren sekali bung!

Berfoto bersama Flying dutchman!
Di salah satu bagian gedung yang lain terdapat kapal-kapal bersejarah yang pernah digunakan di Indonesia. Kapal-kapal tersebut tersusun berjejer dengan rapi dan terdapat informasi mengenai kapal tersebut.

Walaupun letaknya lumayan jauh, aku sarankan kalian untuk datang ke tempat ini. Kalo ke Jakarta jangan tau kota tua sama Museum Fatahillah aja, sejarah kebaharian Indonesia dan legenda-legenda di seluruh dunia juga harus tau. Jadi, silahkan datang ke museum ini!

No comments:

Post a Comment