Mengenai Kuliah di Pertanian

Halo. Bagaimana kabar saudara sekalian? Masih sehat?

Pertama-tama aku mau ngejelasin tentang perubahan yang ada di blog ini. Ya, setelah sekian lama, akhirnya aku ganti template blog juga. Ada beberapa alasan kenapa aku ganti template:

1. Yang lama berat, udah gajelas kode-kode html-nya
2. Butuh sesuatu yang baru
3. Kayaknya yang ini lebih srek

Sebagaimana seseorang mengganti template, pasti ada aja masalahnya. Waktu pertama make template ini, komen G+ nya gamuncul. Untung ada si devafredeva.blogspot.com yang berbaik hati membantu untuk memunculkan komen G+ nya. Sekarang jadi puas liat tampilannya.
***
Hujan bisa saja berkah bagi orang-orang tertentu. Sekarang ini memang sedang memasuki musim hujan. Kebetulan juga aku kuliah di pertanian. Musim hujan dengan pertanian? hmm. Hujan merupakan suatu keadaan yang kadang ingin ditunggu bagi anak-anak pertanian. Alasannya simpel. Biar tanaman praktikum kami gak perlu disiram lagi.

Menyiram dan mengaduk tanah udah menjadi kegiatan sehari-hari. Kalo SMA dulu kegiatannya belajar-pulang, kalo di perkuliahan berubah menjadi belajar-nyiram tanaman-pulang. Tapi bagiku menyiram tanaman itu masih bisa dienak-enakin lah daripada ngaduk-ngaduk tanah. Kegiatan mengaduk-ngaduk tanah itu merupakan kegiatan paling bikin kita ngeluh. Soalnya, tangan kita kotor... Cukup perasaan aku aja yang diaduk-aduk. Jangan tanah...

Berkaitan tentang pertanian, ada beberapa sesuatu yang mencolok yang membuat mahasiswa itu terlihat sangat 'pertanian'. Misalnya dengan melihat kulit yang belang, terkadang aku bisa menyimpulkan kalo seseorang itu adalah mahasiswa pertanian. Secara, mahasiswa pertanian itu pasti sering ke lahan yang penuh dengan terik matahari. Dijamin, jika tidak memakai baju lengan panjang, mahasiswa dari fakultas lain bakal menyebrang dengan menginjak-injak kami. Udah kayak zebra cross.

Ada satu lagi, jika sepatu yang digunakan seseorang banyak lumpur dan tanahnya, kemungkinan besar dia adalah mahasiswa pertanian. Mahasiswa pertanian sangat akrab dengan yang namanya lahan. Kalo ada praktikum di lahan, sudah bisa dipastikan sepatunya akan terkena lumpur. Sedikit tips: gunakan sepatu lapangan atau sepatu boots. Soalnya, dua sepatuku udah rusak gara-gara sering dipake di lahan.

Banyak orang bilang kalo mahasiswa pertanian tahu segala hal dengan yang namanya tumbuhan. Maka, sekarang aku tegaskan jawabannya adalah 'Tidak Semuanya'. Beberapa orang mahasiswa pertanian kadang juga bisa lupa tentang reaksi fotosintesis yang sederhana itu. Parahnya, lupanya itu ketika sedang sidang skripsi.

Sudah hampir dua tahun aku menjadi mahasiswa pertanian. Awalnya, aku sempat agak ragu. Bisa gak ya aku kuliah di pertanian? Awal-awal kuliah menjadi momok yang sangat menakutkan. Hingga aku mendengar suatu wejangan dari beberapa dosen. Wejangan ini diberikan ketika pertama kali aku masuk di Fakultas Pertanian.

Ilustrasi sedang mengerjakan skripsi. Insya Allah 2 tahun lagi.
Wejangan tersebut berisi tentang mahasiswa pertanian sebenarnya adalah manusia yang paling pintar. Mahasiswa pertanian itu adalah 'dokter tanaman', dimana kalo dokter manusia bisa mengetahui penyakit dari seseorang dengan menanyakan gejala-gejala penyakit si pasien, sedangkan dokter tanaman harus mendiagnosanya sendiri. Ya, karena tanaman gak bisa ngomong.

Begini contohnya:
A= Dokter Manusia
B= Pasien

A : "Bagian mananya yang sakit?"
B : "Di pinggang saya dok, seperti ada yang nusuk-nusuk"

Si dokter mendengar keluhan sang pasien. Masalah selesai.

Bagaimana kalo dokter tanaman?
C= Dokter Tanaman
D= Pasien (tanaman)

C :"Silahkan masuk. Kamu sakit apa? Bagian mana yang sakit?"
D :"............"

Si dokter tidak bisa mendengar keluhan sang pasien. Dia harus mendiagnosa dan mempelajari gejalanya sendiri.

Seperti dengan ilustrasi diatas, dosen-dosen tersebut memberikan motivasi kalo kami ini gak salah kuliah di pertanian. Kami adalah orang-orang terpilih.

Tak hanya dosen, para mahasiswa tingkat atas ataupun alumni juga sering memberikan motivasi-motivasi tentang kuliah di pertanian. Mereka bener-bener meyakinkan tentang prospek pertanian kedepannya.

Oh ya, quote yang paling sering aku dengar dari mahasiswa tingkat atas atau alumni adalah:

"Ketika manusia masih membutuhkan nasi, maka pertanian tidak akan mati"

Dan dengan kalimat itulah yang sampe sekarang membuat aku percaya.

No comments:

Post a Comment