Gagal Technical Meeting

Halo. Ternyata aku udah lama juga ya aku gak nge-blog.

Ya, tugas-tugas yang tak berkepritugas-an adalah penyebab utama dari semua ini. Setiap hari kerjaanku hanya menulis laporan, buat tugas, nyontek tugas, nyontek tugas teman yang dari hasil contekan juga, dan nyontek tugas teman yang dari hasil contekan juga, namun kalimatnya diubah-ubah. Ternyata aku baru sadar, rata-rata dari hasil tugasku adalah contekan. Tapi tetap aja ngerjainnya susah!

Setelah gagal menjadi relawan KAA dari pihak Kemenlu (Kementerian Luar Negeri), maka aku mencanangkan ide untuk mengikuti  perlombaan BHSG (Bandung Historical Study Games). Lombanya ini berkaitan dengan sejarah. Kita mengelilingi beberapa tempat bersejarah di Kota Bandung sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada. Kira-kira seperti itulah.

Satu kelompok maksimal ada lima orang. Aku membuat tim bersama para teman sekelas kuliahku yaitu Ichsan, Adit, Dani, dan Lamza. Dengan komposisi seperti ini mudah-mudahan aja bisa menang dan dapet uang.

Aku sendiri sangat bersemangat mengikuti lomba ini. Sampe-sampe aku ngajak semua anggota kelompok untuk dateng ke technical meeting. Dengan membawa print-out dari email undangan buat technical meeting, Aku, Adit, Dani, dan Ichsan pun berangkat dari Jatinangor menuju Museum KAA. Sejujurnya, di perjalanan entah kenapa aku ngantuk dan lemas. Mungkin karena sang matahari yang menyombongkan teriknya pada saat itu.

Suasana saat kami mulai memasuki kawasan jalan Asia Afrika penuh dengan spanduk-spanduk bergambar Soekarno dan Nelson Mandella. Kawasan ini benar-benar mengubah diri demi perhelatan peringatan KAA ke-60. Gedung-gedung juga banyak yang dibersihkan. Waktu kami datang, juga banyak anggota TNI dan PASPAMPRES yang menggunakan baju batik. Mereka sedang bersiap-siap untuk pulang setelah Presiden Jokowi baru saja selesai meninjau persiapan KAA ke kawasan ini.


Namun, satu permasalahan muncul: "Kenapa museum ditutup?" Terus Technical Meeting jadinya dimana?

Kami jelas kebingungan. Jauh-jauh datang dari Jatinangor ke Bandung dengan antusiasme yang tinggi, begitu nyampe, tempat technical meetingnya ditutup. Aku mengambil inisiatif untuk mendatangi satpam yang sedang berjaga di pintu samping Museum KAA.

"Oh ya dari mana?" Si satpam menanyakan aku.
"Dari Unpad pak" Jawabku secara spontan.
"Mau ngapain?"

Si satpam sedang menginterogasi layaknya aku adalah seorang teroris yang hendak meledakkan diri.

Setelah menjelaskan, kami diperbolehkan masuk ke dalam museum. Anehnya, technical meeting udah mau dilaksanakan kenapa yang datang baru kami!?

Baru satu menit di dalam museum, tiba-tiba ada bapak-bapak yang menyuruh kami keluar dari museum. Dia bilang kami nunggunya diluar aja. 

"Anjriiit! ini kita udah datang tepat waktu, kok malah disuruh keluar!? Kayaknya ada sesuatu yang gak beres.." Kataku dalam hati.

Aku keluar sambil menganalisa. Tiba-tiba aku teringat Adit pernah bilang kalo kata temennya  yang juga ikut lomba BHSG, technical meetingnya hari Minggu. Segera aku keluarkan handphone untuk menghubungi contact person yang tertera di surat.

Benar saja, ternyata technical meeting-nya jadi hari Minggu. Kampret. Kata panitia BHSG-nya dia udah ngehubungin semua anggota di kelompokku dan gak ada yang ngangkat. Masa iya sih panitianya nelpon gak aku angkat. Hapeku aja on terus 24 jam.
***

Mengobati rasa kekecewaan, aku langsung ngajak keliling-keliling di kawasan Asia Afrika. Kami udah beneran kayak turis. Jalan kaki sambil foto-foto. Monumen baru khusus peringatan KAA ke-60 juga kami sambangi.


Monumen baru!
Selanjutnya, kami berjalan menuju alun-alun mesjid raya. Bagi yang belum tahu, kawasan alun-alun yang di mesjid raya ini sekarang udah make rumput sintetis. Banyak orang dari segala umur datang kesana. Ketika sedang asyik-asyiknya istirahat di alun-alun, rintik-rintik hujan mulai turun. Terpaksa kami berteduh di dalam mesjid hingga shalat ashar dilaksanakan.

Pada saat itu kami gatau mau ngapain. Udah bener-bener gajelas setelah di PHP-in sama technical meeting.

"Main biliard ajalah kalo hujannya udah reda" Aku berbicara ingin memotivasi para teman-temanku yang udah kelelahan bawa motor. Dani menoleh dan langsung menatapku dengan sorotan mata yang tajam. Lalu dia bilang: "Sok aja"

Setelah hujan bener-bener reda, kami keluar dari mesjid. Kami ngelewatin jalan Cikapundung Timur yang sudah banyak berubah. Dulu, jalan ini masih berbentuk aspal. Sekarang, jalan ini di renovasi menjadi keramik dan daerah itu akan dijadikan Taman Cikapundung.


Perjalanan dengan jalan kaki menuju tempat biliard ini bermula karena panitia yang tidak menghubungi kami kalo jadwal technical meeting diganti.

Kalo para kepala negara dulu berjalan dari hotel Preanger dan Savoy ke gedung merdeka dikenal dengan sebutan "The Bandung Historical Walk", maka kami para mahasiswa (hampir) berkepala dua berjalan dari mesjid ke tempat biliard menyebutnya dengan "The Jatinangor Historical Walk". Entah kenapa kami memilih sebutan itu. Mungkin itu adalah salah satu rasa cinta kami kepada kota yang mendidik kami.

Namun, perjalanan ini membuat pengalaman yang berkesan. Berjalan dari alun-alun mesjid raya menuju jalan Cikapundung, melewati jalan Naripan, hingga menelusuri jalan Braga yang sangat khas mewarnai hari itu.



Kami berjalan tanpa arah untuk menemukan tempat biliard.

No comments:

Post a Comment