BHSG 2015: Mengetahui Sejarah Bangunan di Bandung

Bagi sebagian orang, belajar mengenai sejarah itu membosankan. Kita harus menghafal dan merunut dari kejadian awal hingga akhir yang terdapat di dalam buku. Melihatnya aja bikin mata capek. Apalagi membacanya. Namun, apa yang terjadi jika pelajaran sejarah dikemas dalam sebuah games?

Bandung Historical Study Games (BHSG) membuatnya lebih menarik. Kegiatan ini membuat belajar sejarah menjadi lebih menyenangkan. Acara BHSG ini juga merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan setiap peringatan ulang tahun KAA (Konferensi Asia Afrika). Tahun ini, Acara BHSG sudah memasuki tahun ke-3.



Kegiatan BHSG ini sangat diminati dari berbagai kalangan. Mulai dari anak SMP, SMA, S1, S2, bahakan yang sudah kerja juga mengikuti ini. Total ada sekitar 1500 peserta dari 300-an kelompok yang mengikuti BHSG. Termasuk kami yang mengikuti acara ini.

Sabtu, 25 April 2015
Seluruh peserta berkumpul di Museum Konperensi Asia Afrika pukul 06.00 WIB untuk melakukan registrasi. Kebayangkan betapa antusiasnya para peserta dalam mengikuti BHSG ini?

Aku sempat kebingungan dimana tempat registrasinya gara-gara kebanyakan manusia. Aku langsung mengasih bukti pembayaran yang didapat dari technical meeting minggu lalu.

"Kamu kelompok Srilanka1 ya, ini snack ya. Kaos bisa diambil di belakang saya, untuk stiker nanti diberitahukan lagi" Jawab panitia dengan ngomong yang cepat.

"Ha? kenapa? Kenapa? Dimana-mana?"

"Iya, blablablablabla" Dia menjawab 2 kali lebih cepat dari sebelumnya.

Aku mengiyakan saja. Aku ambil snack yang berada diatas meja. Lalu aku mengikuti antrian barisan panjang untuk mengambil kaos.

Setelah mendapatkan kaos (yang penuh dengan perjuangan), kami bersiap-siap untuk mengganti baju dan bersiap-siap untuk mengikuti acara pembukaan.

Oh ya, kami kebagian dapet kelompok yang bernama Srilanka1. Kelompok ini terdiri dari aku, Dani, Adit, Ichsan, dan Lamza. Setiap ketua kelompok diwajibkan menggunakan iket kepala sunda. Kebetulan aku yang menjadi ketua kelompok, maka aku menggunakan iket kepala sunda yang baru kali itu aku gunakan.

Aku, Lamza, Adit, Ichsan, dan Dani




Terdapat tiga area dalam BHSG kali ini. yaitu Semangat Bandung, GPS, dan Asian-African Rally. Di area Semangat Bandung. para peserta diberikan lembaran quest menggambar gedung yang akan kami lewati. Karena area Semangat Bandung ini sifatnya masih jalan santai, sesekali kami bercengkrama dengan kelompok lainnya.

Sekitar lima menit berjalan, sampailah kami di tempat pertama yaitu penjara Banceuy. Penjara Banceuy merupakan tempat dimana Soekarno di penjara atas tuduhan Belanda pada tahun 1930. Tugas kami disana adalah menggambar penjara tersebut dan menjawab quest pertanyaan tentang penjara Banceuy yang diberikan oleh panitia.

Tempat kedua yang kami lewatin adalah Kantor Kereta Api yang bangunannya terlihat sudah tua. Jelas saja, kantor ini sudah dipakai sebagai kantor pusat ketika Indonesia masih dijajah Belanda. Disini, tidak ada quest yang diberikan. Kami hanya menggambar ikon dari gedung ini.



Tempat ketiga pada area Semangat Bandung ini adalah Gedung Indonesia Menggugat. Gedung ini dulunya merupakan tempat pengadilan Hindia Belanda. Sebelum Soekarno di tahan di Penjara Banceuy, dia diadili dulu disini.

Berfoto di depan Gedung Indonesia Menggugat
Quest yang diberikan tidak terlalu susah di tempat ini. Hanya seputaran lima orang pelopor KAA. Namun, gara-gara di hasut Dani, kami salah menjawab. Wajah Jawaharlal Nehru (India) kami sebut dengan Mohammad Ali Bogra (Pakistan). Gara-gara kesalahan ini, kami langsung nyarikan Dani jodoh. Biar pikirannya jernih. Eh, kayaknya bakalan makin gak jernih sih...

Tempat persinggahan terakhir di area Semanagat Bandung ini adalah Balai Kota. Disini kami beristirahat sebentar, lalu kami dikasih trashbag buat mungut sampah di area kedua, GPS. Ya, GPS (Gerakan Pungut Sampah) memang sedang lagi nge-tren di kota Bandung. Jadi, di sepanjang area GPS kita disuruh mungutin sampah di jalanan. Sampah tersebut ntar ditukerin jadi voucher makan.

Dari Balai Kota, kami lanjut ke Gedung BTPN (de driekleur). dahulu, gedung ini merupakan saksi sejarah dibacakannya teks proklamasi pertama kali di Bandung. Selanjutnya, kami menuju SMA Santo Aloysius. Gedung SMA Santo Aloysius dulunya adalah markas Kempei Tai (polisi militer Jepang). Di tempat ini, kekejaman berlangsung bagi mereka yang membangkang terhadap Jepang. Tempat ketiga di area GPS ini adalah Gedung Sate. Di Gedung Sate ini, kami diberikan quest pertanyaan mengenai sejarah Gedung Sate. Yap, karena kami udah belajar, soal tersebut berhasil kami lahap kurang dari satu menit.

Tempat persinggahan terakhir di area GPS ini adalah Museum Pos Indonesia. Kami udah mulai merasa kelaparan disini. Lapar beneran dan lapar kasih sayang. Lapar beneran karena udah capek jalan ngelilingi kota Bandung, sedangkan lapar kasih sayang karena sampai saat itu kami belum berkenalan dengan satu cewek manapun.


Kiri ke kanan: Gedung BTPN, SMA Santo Aloysius, Gedung Sate, dan Museum Pos Indonesia
 Selama perjalanan, kami bener-bener menikmati udara saat itu. Sejuk dan adem ayem. Antara panas dan mau hujan. Kayaknya sih ada pawangnya. Jadi, dengan suasana yang adem ayem itu, kami selalu mendokumentasikan segala yang kami lihat. Baik berupa foto maupun video.


Pukul 11.30 WIB, kami sampai di Gedung Dwi Warna untuk makan siang, shalat, dan beristirahat. Di gedung ini, acara bersifat santai. Kita bebas ngapain aja. Kalo aku liat sih banyak orang yang modus. Berhubung aku gak suka nge-modusin, jadinya aku ngeliat orang yang lagi nge-modusin aja.

Gedung Dwi Warna
Seluruh peserta dikumpulkan kembali pada pukul 01.30 WIB. Ya, kami disuruh bersiap-siap untuk mengikuti Asian-African Rally. Asian-African Rally merupakan area terakhir dari BHSG. Menurutku, Asian-African Rally merupakan kegiatan yang paling seru dari acara BHSG ini. Seluruh peserta akan berlari dari Gedung Dwi Warna menuju Gedung Merdeka dengan dibagi menjadi dua jalur, jalur Asia dan jalur Afrika. Tapi, kita gak cuma lari aja. Di sepanjang jalan terdapat pos-pos yang harus kita singgahi untuk menjawab pertanyaan. Siapa yang larinya cepat, kompak, mampu menjawab pertanyaan, dan sampai duluan di Gedung Merdeka akan mendapatkan poin yang banyak.

Salah satu tempat pos di Asian-African Rally, Gedung Paguyuban Pasundan
Kekompakkan kami diuji disini. Aku terus menyemangati anggota kelompok untuk terus berlari. Di setiap pos, kami juga saling membantu mengingatkan jawaban. Masih segar dalam ingatan, kami berlari singgah di satu pos ke pos lainnya tanpa lelah. Hingga akhirnya, kami menjadi kelompok pertama yang sampai duluan di Gedung Merdeka.




Lega rasanya.

Walaupun kami tidak berhasil menjadi juara, kami tetap bangga dengan apa yang kami lakukan. Acara BHSG ini benar-benar sangat edukatif dan rekreatif. Semua peserta juga sangat terasa kekeluargaannya. Apalagi panitia kece yang bisa buat acara beginian. Berbekal dari pengalaman BHSG tahun ini, maka kami memasang target juara di BHSG tahun depan.


Semoga bisa terealisasikan tahun depan.

No comments:

Post a Comment