Ciwidey Lagi, Lagi Ciwidey

Ciwidey memang banyak tempat-tempat daerah wisata. Bayangin aja, kalo setiap weekend, pasti banyak mobil ber-plat 'B'. Dan, aku aja yang di Bandung dalam seminggu bisa dua kali kesana.

Lima hari  setelah pergi ke Situ Patenggang bersama teman-teman kampus, kali ini aku diajak lagi pergi kesana bareng teman-teman SMA.

Masih dengan sebelumnya, Situ Patenggang ya begitu. Iya begitu. Tidak ada perubahan. Ketika sampai disana lagi ya biasa aja. Dan untuk yang kedua kalinya, aku menaiki perahu menuju ke Pulau Asmara yang terdapat batu cinta. Teman-temanku pun bertanya, "Dimana batu cintanya?"

Mereka kira batu cinta yang akan kami datangi itu terlihat begitu spesial seperti cerita batu gantung yang terdapat di Danau Toba. Tapi, batu ini hanya biasa saja seperti batu-batu lainnya. Hanya legenda-lah yang membesar-besarkannya.



"A', batu cintanya dimana?" Pranata bertanya dengan penasaran.

Sambil mendayung-dayungkan perahu secara perlahan, A'a perahu berkata:

"Itu, yang, di depan itu dek. Batunya tenggelam, soalnya lagi musim hujan, air jadi pasang"

Ternyata batunya kelelep.

"Yah, kalo kayak gini batunya, aku pun bisa namain batu itu namanya batu cinta juga" Pranata menyahut sambil menunjukkan jarinya ke arah batu yang terdapat di bukit.

"Aku mau namain itu batu putih" Kata Alfath

"Aku juga mau namain batu itu batu akik" Kata aku.

Pulau asmara ini begitu misterius. Misteriusnya adalah... kenapa dinamain asmara? Apakah pulau ini seperti surga bagi orang-orang yang mesum?

Setelah sampai di Pulau Asmara, kegiatan yang kami lakukan hanya sebatas foto-foto saja. Enaknya di Pulau Asmara ini adalah pemandangannya dikelilingi warna hijau. Apalagi udaranya begitu sejuk dan dingin. Jadi, kami berfoto sambil gemetar kedinginan.


Aku berinisiatif naik ke atas bukit yang ada di Pulau Asmara ini. Jalan untuk menuju ke atas sedikit terjal dengan beberapa batu-batuan kecil. Aku hampir terjatuh disana akibat licin karena batu-batuan yang berlumut. Waktu sampai di atas, ternyata pemandangannya sangat bagus. Seperti di foto ini, aku seperti menjadi 'Simba' dengan berteriak: "Aing penguasa didieu!"  (Aku penguasa disini).

aing penguasa didieu!

Apa kata dunia?

Perjalanan selanjutnya setelah dari Situ Patenggang adalah menuju kawah putih. Kalo orang dari luar lagi liburan ke Bandung, biasanya mereka pergi kesini. Kawah putih memang salah satu tempat yang tren di Jawa Barat.

Sialnya, setiap aku pergi ke kawah putih, harinya sedang hujan. Dan ini pun terjadi lagi waktu datang kemarin. Pemandangan di kawah putih pun hanya tinggal kabut saja. Udah gitu, banyak ojek payung yang menjajakan payungnya. Sumpah, ini bikin palak. Setiap jalan satu meter, ditanyain 'Payungnya mas?'

Kalo aku boleh nyaranin, harusnya tukang ojek payung ini harus lebih kreatif sedikit. Jasa ojek payung itu kurang menarik dan inovatif. Harusnya, mereka menawarkan 'jasa peminjaman jaket yang ditaruhkan ke kepala sambil berlari seperti yang ada di drama-drama korea kekinian'. Seperti di film korea, ada cowok yang berlari mengejar sang cewek, lalu cowok tersebut melepas jaketnya dan menaruhkan ke kepala sang cewek agar si cewek tidak kehujanan. Pasti cewek-cewek pada mau. Eh, jaket tukang ojek bau kan ya?
***

Demi kesehatan, manajemen kawah putih membatasi pengunjung hanya boleh berada 15 menit di sana. Selama 15 menit itu, kami berfoto dengan segala gaya dan kemampuan yang ada. Menariknya, kita juga harus berebut view dengan pengunjung yang lain. Pada hari itu memang lagi hari weekend, jadi pengunjung sedang ramai-ramainya.

Denok, Fadhil, Laras, Yanti. Bagoes, Fasya, Aku





Iqbal, Bagoes, Fadhil, dan orang nyempil badannya kelelep setengah

Tepat hujan mulai semakin deras, kami keluar dari kawasan kawah putih. Derasnya hujan ini pertanda rezeki bagi para tukang ojek payung. Ojek payung senang, kami senang. Keluarnya kami dari kawah putih, pertanda liburan panjang benar-benar telah usai.

No comments:

Post a Comment