ATM Tak Mau Dekat

Rasa-rasanya aku gak pernah lupa dalam sesuatu hal. Apalagi semua barang yang menjadi milikku, pasti aku gak akan pernah melupakannya. Semua barang itu pasti akan kuingat seperti kita gak akan pernah lupa untuk memakai celana.

Waktu liburan semester kemarin, ketika masih di Medan, aku kehilangan sebuah kartu kecil yang akan sangat berguna bagi kemashalatan diri. Jika gak ada kartu ini, kamu gak bisa ngapa-ngapain ketika tidak ada uang. Kartu ini bernama.... Atletico Madrid. Ehm, maksud aku ATM.

Hilangnya ini sangat menggemparkan dan penuh dengan misteri. Menurutku, kartu ini hilang di rumah. Kenapa aku yakin hilangnya di rumah? Karena, aku yakin 100% kartu ini udah aku taruh di dompet waktu terakhir kali bertransaksi. Kecil kemungkinan kalo kartunya gak aku ambil ketika lagi ngambil uang di ATM. Gara-gara itu, aku gak bisa ngapa-ngapain. Uang makan selama di Medan ada di ATM semua.
***

Hilangnya di Medan, tapi aku ngurus surat kehilangannya di Jatinangor. Sempet searching-searching di google, katanya kalo mau ngurus ATM yang baru harus ada surat kehilangan dari kantor polisi. Sebenarnya, untuk datang ke kantor polisi pada saat itu, aku takut. Takut kalo ditanya-tanyain hilangnya dimana, kapan, dan blablabla. Untung semuanya berjalan dengan lancar, pak polisinya gak nanya-nanya. Dia langsung buat aja hilangnya di Jatinangor tanpa menanyakan hilangnya dimana. Karena dia baik, aku ngasih polisinya 20 ribu rupiah. Ini disebut penyogokan tanpa diminta. Hmm...

Dengan segala persiapan mental (takut ditanya-tanyain perihal kehilangan) dan buku tabungan, aku datang ke kantor BNI di Jatinangor. Untungnya, Semuanya berjalan mulus. Customer service hanya menanyakan transaksi terakhir kapan. Kemudian, mbak customer service ngeprint buku tabungan. Sekarang, buku tabungan itu sudah berisi. Transaksi pertama kali make buku tabungan adalah waktu pertama kali buka rekening. Iya, udah lebih dari setahun yang lalu. Semua urusan selesai. Kartu yang baru telah jadi tanpa sang customer service meminta bukti surat kehilangan.

Karena mau cepat, jadi bikin kartu yang gak pake nama
Lima hari setelah pengurusan, ATM aku hilang lagi. Kali ini aku berpikir, mungkin aku aja yang lupa ngambil kartu ATM-nya di ATM. Jadi menurutku, selesai aku ngambil uangnya di ATM dan memasukkannya di dompet, aku gak ngambil kartu ATM-nya. ATM-nya masuk lagi ke mesin. Bisa dibilang, ATM-nya ketelen.

Aku baru sadar kalo ATM-ku hilang lagi ketika sedang makan dan hendak ingin membayar. Entah kenapa pada saat membayar, aku iseng ngeliat tempat-tepat kartu yang ada di dompet. Benar, keisengan itu membuat aku sedikit panik karena aku tidak punya uang cash lagi. Beruntung ada saudara sepupuku yang minjemin uang, kalo nggak aku gak bakalan bisa pulang ke Jatinangor.

Untuk mengurus kartu yang kedua ini, prosesnya sama. Hanya saja customer servicenya mukanya jutek. Dia nanya-nanya dan memarahi aku karena kartunya gak aku blokir. Berbeda dengan customer service sebelumnya, mbak kali ini meminta aku untuk memberikan surat kehilangan dari kantor polisi. Aku ngasih surat kehilangan yang aku urus untuk kehilangan pertama. Aku sengaja gak bilang ke mbak ini kalo aku udah pernah ngurus kartu baru lima hari yang lalu. Biar urusannya gak ribet.

Setelah semuanya selesai, aku bertekad untuk mejaga kartu ATM yang baru ini dengan seluruh keinginan hati seperti mejaga hati ini agar tidak terkontaminasi mantan. Disitu kadang aku merasa sedih kartu ATM hilang dua kali. Sakitnya tuh bukan dimana-mana, gak di hati, gak di jantung, gak di kepala. Tapi, sakitnya tuh di DOMPEET! Njrit, sekali buat kartu baru harus ngeluarin uang 26 ribu. Belum termasuk uang materainya lagi. Sebenarnya kan kartu ATM gunanya untuk ngambil uang, Kalo samaku kartu ATM jadi penguras uang.

ATM aja gak mau ada didekatku, apalagi kamu?

No comments:

Post a Comment