Semua Tentang Becak di Medan



Di Medan, orang-orang jarang menggunakan taksi jika sedang hujan. Mereka lebih suka naik Becak ketimbang naik taksi. Karena, taksi di Medan susah dijumpai dan kadang, supirnya suka melebih-lebihkan tarif argo-nya. Maka, aku lebih sering naik becak ketimbang taksi jika dalam keadaan terdesak.

Disuatu hari, saat aku sedang menunggu kehadiran becak di pinggiran trotoar yang sudah tidak rata lagi. Hujan rintik-rintik sudah turun, hingga membuat bolongan di trotoar menjadi berisi. Beberapa becak memang sudah ada mangkal di sekitaran situ, tapi aku lebih memilih becak yang sedang lewat saja. Kata beberapa orang, becak yang sedang lewat itu biasanya harganya lebih murah dibandingkan dengan yang sedang mangkal. Tips seperti ini aku dapatkan dari abangku.

Namun, tidak serta merta becak yang lewat langsung ku stop. Dalam hal ini, aku memilih untuk mendapatkan becak yang nyaman untuk dinaiki. Biasanya aku akan menaiki becak yang berhenti sendiri dan menawarkannya sendiri. Karena, becak yang kita stop akan menjual mahal dirinya. Ujung-ujungnya malah menawarkan harga yang lebih tinggi.

Aku pun dapat becak yang menawarkannya dirinya sendiri. Harganya benar-benar murah daripada becak yang sedang mangkal. Aku naik ke becak. Khas dari kursi becak adalah busa dari kursinya terkoyak-koyak seperti terkena cakaran kucing, suara motor tua yang lelah seperti kebanyakan becak lainnya. Aku duduk nyaman disitu, sambil mengkhayal ingin cepat sampai rumah.

Sepanjang perjalanan, tukang becak tersebut mulai menanyakan beberapa pertanyaan kepadaku, seperti kuliah dimana, papa dan mama kerja apa, tinggal dimana (loh dia kan lagi nganter aku ke rumah?). Semua pertanyaan dia aku jawab dengan semangat. Sampai-sampai si tukang becak gak tau mau nanya apa lagi. Terjadi keheningan selama lima menit. Maka, kini giliranku untuk bertanya..

"Bapak tinggal dimana?" Kataku sok akrab
"Sebenarnya bapak tinggal di dekat rumahmu, nak"

Aku langsung terdiam. Jawaban bapak tukang becak itu seakan-akan membuat aku seperti dalam keadaan horror. Terlintas di pikiranku, bapak ini akan menculikku. Dia tidak mengantarkanku pulang, melainkan aku di bawa ke rumahnya. Saat itu aku langsung membayangkan kalo kejadian tersebut beneran terjadi. Setelah disekap di dalam rumahnya, aku dijadikan makanan peliharaanya. Lalu, polisi datang, bapak tersebut kabur keluar rumah, dengan membawa becaknya. Kemudian, ia mendayung dengan cepat becaknya. Becaknya terbang secara perlahan menuju angkasa dan mengeluarkan bunyi: ‘Sari rotii, roti sari roti’. Ternyata dia tukang sari roti.

Aku menepis khayalanku tersebut, lalu kembali bertanya.‘

"Ohh, daerah mananya pak?"
"Di jalan sebelum menuju rumahmu, makanya bapak ngasih harga murah. Bapak memang sekalian mau pulang tadi. Hahahaha"

Kampret. Kirain bapak ini tergoda dengan cara aku menawar. Rupanya karena rumah kami searah.

Lama kelamaan, kami berdua semakin akrab. Kemudian, aku melanjutkan beberapa pertanyaan seperti: anak bapak udah berapa, sebulan gajinya berapa.
***

Naik Becak Tidak Selamanya Tepat


Tidak selamanya naik becak merupakan pilihan yang tepat. Ada saat-saat kau tidak membutuhkan becak dan becak tidak membutuhkanmu. Misalnya jika rumah kalian hanya berjarak 100 m dari tempat kalian berada. Jangan pernah sekali-kali menaiki becak dengan jarak yang sedekat itu. Jalan kaki merupakan pilihan yang tepat.

Aku pernah mencoba untuk menaiki becak dengan jarak yang sedekat itu, kejadiaanya malah seperti ini:

“Bang, ke simpang depan berapa? Lima ribu ya” Kataku menawar.
“Gak dapet lagi dek segitu, BBM udah naik. Sepuluh ribulah”
“Alah dekatnya itu bang, Nampaknya simpangnya dari sini” Aku menjawab sambil agak membentak
“LANGIT PUN NAMPAK DARI SINI DEK!!” Dengan motor bututnya, si tukang becak ngebut meninggalkanku.

Di hari lain ketika aku mau naik becak dengan abang dan adikku, aku mendapat ilmu Becakology-bidang khusus ilmu dalam perbecakan- yang baru. Dalam hal tawar-menawar, tukang becak lebih jago ketika kita sedang tidak sendiri. Misalnya aku yang berdua sama adik dan abangku. Dia pasti mengeluarkan kalimat yang bikin kita tersentak:

“Berapa orang kalian dek?”

Aku yakin, si tukang becak udah tau kalo kami bakalan naik bertiga. Namun, kalimat itu tetap dikeluarkannya karena tidak terjadi kesepakatan harga antara kedua belah pihak. Sebagai orang yang membutuhkan, kami hanya bisa mengalah.
***

Tukang becak di Medan juga terkenal dengan sembrononya dalam berkendara. Cara berkendaranya seakan-akan jalan itu milik nenek moyangnya. Mereka suka nge-rem secara tiba-tiba. Kalo hari sudah malam lampu depannya gak pernah dihidupin. Pengalaman yang pernah kualamin: Hampir nabrak becak. Bukan hanya lampu depan saja, lampu sein pun tak pernah digunakan. Nggak tau juga lampunya itu nggak pernah digunakan atau emang udah rusak. Dan yang lebih parah lagi, mereka suka berbelok secara tiba-tiba. Jelas ini berbahaya bagi kendaraan yang sedang berada di belakang becak. Bisa nabrak. Maka, orang di Medan menyebut ini sebagai semacam pepatah. “Hanya tuhan dan tukang becak-lah yang tahu kapan dia mau berbelok”

Tips Ketika Tidak Canggung di Becak


Ingat, Lihat keadaan becaknya terlebih dahulu, jangan keadaan supir becaknya. Jika becaknya sudah oke, dari tempat duduknya, motornya, hingga ada penutup becaknya (agar tidak terkena debu), maka langkah selanjutnya adalah…… periksa, apakah tukang becaknya ada atau tidak. Jika tidak ada, maka kamu tidak bakalan sampe rumah.

Langkah selanjutnya adalah.... menaikinya (tentu saja, semua orang juga tau). Jika selama perjalanan kamu sudah merasa canggung, pergunakan hape kalian untuk bermain. Tukang becak akan mengira kita adalah orang yang sibuk.

Udah bosan mainin hape?  Perlahan-lahan mulailah membuka percakapan dengan supir becaknya. Ingat, jangan langsung menanyakan yang terlalu rumit, mulailah dengan percakapan ringan seperti: 

“becaknya bagus ya pak, beli dimana?” 

Jika kamu menanyakan pertanyaan yang gampang, lama-kelamaan supir becak tersebut mulai nyambung dengan pembicaraan kita. Jangan pernah menanyakan soal limit, integral, diferensiasi, atau apalah itu. Pertanyaan itu hanya membuat tukang becak mengira kita sedang mengolok-olok dia. Karena, sebagian besar tukang becak hanya tamatan SMP. 

Satu lagi yang penting, jangan pernah menanyakan"

"Bapak kenapa bisa jadi tukang becak?"

No comments:

Post a Comment