Perubahan

Waktu lagi libur semester ke Medan kemarin, aku sempat menjumpai beberapa teman-teman sekelas sewaktu SMA. Sebenarnya lumyan susah menemukan waktu jumpa yang tepat. Ketika aku udah selesai UAS, mereka belum mulai UAS.

Pertemuan pertama bersama teman-teman SMA akhirnya terwujud setelah aku mengajak di grup line SMA. Biar waktu yang terbuang agak panjang, makanya kemarin aku ngajak nonton. Aku hampir membatalkan acara nonton tersebut karena sedikitnya orang yang merespon di grup. Kira-kira seperti ini illustrasinya:

Iqbal Fauzan: 'Nonton yok'
read by 2
*** 

Dengan perjuangan yang cukup panjang setelah salah naik angkot, akhirnya aku sampai di tempat tujuan. Orang yang aku jumpain pertama adalah Indri. Sekilas tidak ada perubahan dengan dirinya, hanya saja kulitnya makin gelap.

Beberapa menit kemudian, Zharfan, Firman, dan Juanda yang lain datang. Zharfan yang sekarang 'lumayan' agak kurus berada di depan seolah-olah dia adalah bos dari Firman dan Juanda. Setelah menyapa dan saling basa-basi, kami langsung membeli tiket. Farhan pun menyusul menjelang di mulainya film. Selesai menonton, kami pergi makan di sebuah restoran.

Perbincangan yang kami lakukan tidak jauh-jauh dari masa perkuliahan. Mulai dari keadaan lingkungan kampus, temen-temennya, hingga perbincangan yang sebenarnya 'tabu' untuk diperbincangkan bagi anak kuliahan, yaitu menanyakan 'IP'.

Setelah hari pertemuan yang singkat itu, aku mengajak Zharfan, Firman, Juanda, dan Farhan lagi untuk bertemu. Bukan tanpa alasan, selama sebulan udah di Medan, aku baru jumpa sekali dengan mereka. Pertemuan selanjutnya kami habiskan dengan bermain bersama. Firman juga sempat memberikan foto dan video sewaktu SMA. Totalnya sekitar 40 GB. Angka 40 GB tidak akan lebih banyak dari kenangan dan momen yang terjadi.

Sekilas, semua teman-temanku tidak ada yang berubah dan masih sama seperti dulu. Sifat-sifat dan gaya 'bercanda'-nya masih tetap sama. Cara kami mengejek satu sama lain seperti mengingatkan masa-masa SMA silam. Foto dan video yang diberikan Firman menjadi saksi bisu bahwa mereka tidak berubah atau lebih tepatnya belum berubah. Kita gak akan tahu bagaimana seseorang bisa berubah ke depannya. Seiring berjalannya waktu, kita sendirilah yang menyadari ada atau tidaknya perubahan yang terjadi. Walaupun Pak Tarto (guru sewaktu SMA) pernah mengatakan: "Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan", tapi aku lebih suka jika perubahan itu tidak terjadi. Jika pasti akan terjadi, setidaknya bisa diperlambat.


No comments:

Post a Comment