Ibu Gendut Hingga Nyasar Pertama Kali di Medan

Ku sudah sampai Medan..
Kota yang membesarkan aku..
Kota yang jorok namun bisa dapet penghargaan Adipura ..
Ku sangat merindukan kota ini..

Ah, biutipul ceribel lah. Lebay kali.
Tapi, beneran. Aku udah sampe di Medan dari tanggal 1 Januari kemarin. Aku berangkat dari Jakarta sama mama dan adikku. Kami menaiki pesawat Air Asia dari Cengkareng menuju Kualanamu. Ada yang beda dari penerbangan kali ini, aku selalu menyebut nama Allah dan selalu istighfar. Maklum, beberapa hari yang lalu pesawat Air Asia baru saja mengalami kecelakaan.

Di Medan ini semua anggota keluargaku berkumpul kembali. Mama, papa, abang dan adik ada. Abangku juga baru lulus S1 dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, mamaku kuliah S3 di UNPAD Bandung, sedangkan aku dan adikku kuliah di UNPAD Jatinangor. Kami berkumpul lagi disini setelah sekian lama.

Kegiatan yang aku lakukan di Medan ini tidak terlalu banyak. Hanya main game, nonton, tidur, makan, tidur sambil makan, dan lain-lain. Oh ya, aku juga sempat bertemu dengan teman-teman SMA yang sebagian juga sering aku temuin di Bandung. Kami ngumpul bareng dan makan bersama.

Bareng teman-teman SMA
***

Udah lama aku gak naik angkot di Medan. Penumpang angkot di Medan ini unik-unik. Mungkin kalo stand up comedian naik angkot di Medan, pasti ketawa liat tingkah laku penumpang angkot di Medan. Pecah bro, pecah!

Akhirnya kemarin aku dengar ibu-ibu ngomong ceplas-ceplos. Saat itu aku sedang di angkot, seorang ibu gendut berjilbab dengan menggunakan daster menyetop angkot dan hendak masuk. Dia pun berteriak kepada tukang angkot dengan logat medannya.

"Muatnya ini baaang? Aku gendut lo"
"Muat buuu"
"Aku gendut lo, sempit nanti"
"Muat bu, nanti tinggal bayar double" kata tukang angkot dengan nada bercanda

Si ibu gendut itu masuk. Benar, dia langsung memenuhi tempat angkot. Sesak rasanya. Lalu, tiba-tiba dia bercerita ke penumpang di sebelahnya.

"Mau beli sate dekat sininya aku ini, kalo jalankan jauh juga"
"Sate mana bu?"

Penumpang di sebelahnya turut menanggapi. Gara-gara itu, bapak-bapak yang berada di depan ibu gendut itu juga ikut menanggapi. Gara-gara bapak tersebut menanggapi, penumpang di sebelah itu pun ikut menanggapi. Hingga satu angkot turut menanggapi ibu itu mau beli sate dimana, kecuali aku.

Terus kenapa bu? Kok jadi curhat pulak pikirku. Penumpang di sebelahnya menanggapi curhatan si ibu. Beberapa menit kemudian, ibu tersebut kemudian berteriak 'Pinggir bang' dan turun.

"Aduh kecepatan aku turun"
"Naik lagi lah buu" sahut si tukang angkot dengan nada yang bercanda lagi.
"Ah nggak mau lah, nanti bayar dua kali aku"

Ibu itu pun turun. Saat itu, aku sedang duduk di pojok belakang kanan angkot sambil menahan ketawa melihat ibu itu ngomong. Saat itu aku bersama abang dan adikku mau pergi nonton blackhat di salah satu bioskop di Medan.

Setelah selesai menonton, kami pun hendak pulang dengan menggunakan angkot lagi. Kami menunggu angkot dengan trayek menuju rumah, namun angkot tersebut tidak muncul-muncul. Saat itu jam sudah menunjukkan jam setengah sembilan malam. Aku pun mengusulkan naik angkot trayek lain, yang aku pikir jalurnya hampir sama dengan trayek yang kami inginkan. Abangku pun meyakinkan jalur trayek tersebut sama.

Di tengah-tengah perjalanan, aku mulai agak bingung dengan jalur trayek tersebut. Angkot tersebut ternyata jalurnya tidak sama. Aku pun hanya bisa memandang jalan-jalan sambil berharap angkot ini hanya lewat jalan ini saja, selebihnya jalurnya sama dengan angkot dengan trayek yang menuju rumah kami.

Hingga, kami memasuki daerah perkampungan yang jalannya berlubang, tidak ada lampu jalan, dan terlihat sedikit orang yang melintas di jalan itu. Perasaanku mulai nggak enak setelah melihat segerombolan bapak-bapak yang berada di pinggir jalan sedang berpesta minum tuak (miras khas orang batak) sambil ketawa ketiwi. Ya Allah, dimana ini?!

Kami adalah penumpang terakhir. Kami yang saat itu malu bertanya duluan, akhirnya mendapat pencerahan dari tukang angkot tersebut. Dia memberikan pencerahan kepada kami dengan menyakan kemana kami akan turun.

Tukang angkot tersebut lalu mengantar penumpang terakhirnya ke jalan besar yang banyak dilalui orang-orang. Kami turun dengan sumringah dan segera menaiki becak yang kebetulan dekat dengan tempat kami turun. Lampu jalan yang remang-remang mewarnai perjalanan kami dengan becak. Malam itu pun menjadi sejarah pertama kali aku nyasar di Medan.