Game Membuat Terlantar?

Hampir remaja di dunia sangat gemar bermain game. Game itu ibarat sebuah makanan pokok bagi orang yang 'maniak'. Mancing maniak!

Di Indonesia, anak kecil umur 3 tahun saja sudah ada yang bermain game, Berawal dari sang ayah yang menggunakan tablet untuk membaca, hingga tablet tersebut dipinjamkan ke anaknya untuk bermain game. Kalau zaman aku kecil dulu, tak pernah ada namanya yang begituan.

Hingga berkembangnya internet seperti zaman sekarang, game pun mulai mengembangkan kepak sayapnya. Bermumculan-lah game-game online yang menjamur seperti sekarang ini. Aku mulai tahu game online itu ada di Indonesia ketika zamannya 'Ragnarok'. Namun, aku belum pernah memainkannya.

Maraknya dan banyaknya remaja di Indonesia untuk bermain game online sudah tidak bisa kita pungkiri lagi. Terlihat jelas di sekitar kita, warnet-warnet semakin banyak bermunculan. Jarang aku lihat warnet-warnet tersebut sepi. Kalau sepi, berarti itu hanya tempat jasa pengetikan.

Para orangtua khawatir dengan hadirnya game online. Banyak anak yang sudah terjerumus lembah ini. Lumayan sering aku dengar kasus seorang mahasiswa rantau yang kecanduan main game online hingga membuat prestasi akademiknya menurun.

Bukan hanya orangtua saja yang khawatir, pacar sang gamers juga khawatir. Meme-meme tentang pacar yang terlantar juga sering kita lihat. Padahal, Laki-laki zaman sekarang menginginkan kebebasan dalam main game dan tanpa diganggu oleh siapapun. Seperti hal-nya negara kita menganut asas demokrasi, yaitu bebas dalam mengeluarkan pendapat dan bebas dalam memilih, termasuk memilih pacar atau main game..

Namun, ingatlah. Demokrasi bukan hal yang indah. Demokrasi juga bukan tentang kebebasan. Demokrasi bagaikan serigala dan domba yang sedang berebut makan siang. Serigalanya si game, dombanya adalah sang pacar. Domba tersebut jelas kalah berebut makan siang dengan serigala. Makanya cewek selalu kalah dengan game. Jadi terkadang kebebasan itu datang dari pengakuan hak yang belum terambil, bahkan melalui pemungutan suara.

Jika seorang gamers membalas pesan pacarnya dalam hitungan detik ketika sedang bermain game, maka ia mencintai pacarnya. Jika membalas dalam hitungan menit, ia mencintai pacar dan game-nya. Jika membalas dalam hitungan jam, sudahlah, Dia pasti lebih mencintai game-nya daripada pacarnya.

Dampak yang terjadi dalam bermain game offline maupun online itu tergantung dari individu masing-masing. Bagaimana kita menyikapi terhadap game tersebut itulah kuncinya. Memang tidak bisa disalahkan 100 %  juga game bisa merusak otak dan menurunkan prestasi akademik. Disisi lain, game bisa meningkatkan kemampuan otak kita berfikir untuk memikirkan strategi yang cocok dalam bermain. Sebagian besar anak juga mendapatkan kosa kata baru bahasa Inggris dengan bermain game.

Lalu apa manfaat game jika kita punya pacar?
Salah satu manfaatnya adalah menghindarkan diri dari pikiran buruk dan negatif yang ada di otak. Bermain game salah satu cara untuk menyibukkan diri juga kan?  Makanya, bermain game dengan efektif dan efisien itu terkadang bermanfaat.

Bagaimana dengan jomblo yang bermain game?
Tidak ada masalah. Malah ini adalah salah satu manfaat jomblo bagi cowok. Mereka bebas berekspresi dan mengeluarkan emosi dalam bermain game tanpa ada halangan siapapun. Tipe ini biasa disebut 'Singer' yaitu singkatan dari 'Single Gamer'. Orang seperti ini biasa melakukan waktu luangnya untuk bermain game.

Oh ya, mumpung ada waktu luang, aku main FIFA Online dulu ya.

No comments:

Post a Comment