Aceh dan Sabang, Pesona Wilayah di Ujung Barat Indonesia

Kali ini aku mau nyeritain perjalananku ketika liburan ke Aceh dan Sabang. Perjalanan ke Aceh sudah tiga kali aku lakukan, sedangkan ke Sabang sudah dua kali. Aceh menjadi tujuan kami karena Aceh merupakan tempat kuliah mama dan abangku, yaitu di Unsyiah. Selain itu, tujuan kami ke Aceh waktu pertama kali adalah melihat kondisi Aceh setelah terjadi bencana Tsunami pada tahun 2004.

Wilayah paling utara di Sumatera ini memang benar-benar memiliki wisata yang bagus. Banda Aceh dan Sabang memiliki pantai yang indah beserta tempat-tempat yang memiliki nilai historis lainnya.

Aceh

Pertama kali ke Aceh yaitu sekitar tahun 2008. Kami pergi kesana dengan menggunakan mobil pribadi selama 14 jam. Waktu pertama kali di Aceh, jalanan sepi dan tidak banyak rumah-rumah di pinggir jalan. Kata mamaku, dulu di daerah yang kami lewati dulu banyak rumah yang terlihat kumuh. Terus jalanan di Aceh semakin bagus. Kami pun sempat mengunjungi rumah kos mamaku ketika masih kuliah, dan ternyata ibu kos-nya masih hidup. Dia selamat dari terjangan Tsunami.

Inilah tempat-tempat yang saya kunjungin selama di Aceh:

1. Mesjid Baiturrahman


Pertama kali aku melihat mesjid ini adalah di sebuah kover buku yasin. Mesjid ini dulunya adalah mesjid kesultanan Aceh. Ketika terjadi Perang Aceh, mesjid ini sempat di bakar oleh Belanda. Lalu, pemerintah Belanda memabangunnya kembali untuk meredam kemarahan rakyat Aceh. Ketika terjadi Tsunami, Mesjid Baiturrahman menjadi tempat mengungsinya masyarakat Aceh. Setelah air Tsunami surut, mesjid ini dijadikan tempat ribuan mayat-mayat yang meninggal. Setelah peristiwa Tsunami tersebut, Mesjid Baiturrahman segera di renovasi. Sekarang, mesjid ini kokoh dan merupakan saksi bisu sejarah. Aku beruntung pernah shalat di salah satu mesjid terbesar di Asia Tenggara ini.

2. Kapal PLTD Apung Banda Aceh



Ini adalah sebuah kapal seberat 2600 ton. Terdampar 5 km ke pemukiman warga akibat Tsunami,
Kapal PLTD ini sekarang menjadi objek wisata di Banda Aceh. Dulunya, kapal ini terdapat di Pantai Ulhe Lheu sebagai pembangkit listrik. Sekarang, kapal PLTD ini terdapat di sekitar perumahan warga. Saat terjadi Tsunami, kapal ini hanyut dan terhempas sejauh  5 km dari tempat asalnya. Saat aku melihatnya langsung disana, terdapat puing-puing rumah yang hancur akibat terdamparnya kapal ini. Saat itu juga aku langsung merinding, di bawah kapal terdapat ruang kamar mandi dan terlihat sebuah celana. Apakah masih ada mayat dibawahnya?

Foto ini diambil ketika berada di atas kapal 
Sekarang, kawasan di daerah tempat ini menjadi sebuah objek wisata yang digemari di Banda Aceh. Kita dapat menaiki hingga dek atas kapal, melihat pemandangan Banda Aceh dari atas, dan disekitar kapal ini terdapat tempat jual suvenir "Celoteh". Celoteh ini mirip-miriplah sama "Joger"-nya Bali. Melihat kapal ini jadi terbayang dahsyatnya Tsunami yang menerjang Aceh. Kapal seberat 2600 ton bisa terdampar kesini.

3. Pantai Lampuuk

 



Aku rasa, Pantai Lampuuk adalah pantai terbagus yang ada di Aceh. Pasirnya putih, airnya biru. Bali aja kalah sama Pantai Lampuuk ini. Oh ya, kalo mau baca liburan aku di Bali baca: Balicious dan Jawa Timur 2011, Ulun Danu Bedugul, Air Terjun Git-Git, Tanah Lot, dan Nusa Dua, dan Garuda Wisnu Kencana.

Airnya benar-benar bersih!
Setelah terjadi Tsunami, para wisatawan dan masyarakat Aceh enggan untuk datang kesini. Wajar saja, daerah di sekitar Pantai Lampuuk ini memiliki kerusakan parah akibat terjangan Tsunami. Dulunya disini banyak pohon pinus. Namun semua roboh akibat bencana tahun 2004 itu. Sekarang Pantai Lampuuk sudah menjadi andalan lagi. Malahan katanya Pantai ini makin bagus akibat terjangan Tsunami. Aku sempat berfoto disini, viewnya bagus banget! Oh ya, jangan lupa main wisata airnya. Disini juga ada yang menyewakan Banana Boat.



4. Museum  Tsunami


Untuk mengetahui dan belajar dari sebuah bencana, maka dibangunlah museum Tsunami di Banda Aceh. Menurutku ini sangat penting untuk mengingatkan kepada generasi mendatang betapa dahsyatnya Tsunami dan bagaimana cara menyelamatkan diri. Museum Tsunami ini sendiri diarsiteki oleh Ridwan Kamil, sang walikota Bandung yang sekarang. Bentuk bangunan Museum Tsunami ini adalah seperti kapal laut yang besar terletak di tengah kota. Di Museum ini kita bisa melihat video-video maupun gambar-gambar saat Tsunami menerjang di Aceh. Oh ya, disini juga terdapat tempat simulasi terjadinya gempa bumi. Kalo mau tau kira-kira gimana simulasinya, liat aja salah satu tantangan di acara 'Benteng Takeshi', yaitu gempa bumi lokal. Perasaan ku campur aduk ketika melihat museum Tsunami ini. Sedih, takjub, ngeri, bangga, semuanya menjadi satu.

Sabang

Sekarang aku mau nyeritain waktu di Sabang. Sabang atau yang biasa disebut pulau weh merupakan pulau paling ujung yang terdapat di bagian barat Indonesia. Untuk sampai di Sabang, ada dua macam kapal penyebrangan yang terdapat di pelabuhan. Ada kapal cepat, dan kapal barang (biasa). Sudah jelas kapal cepat lebih mahal daripada kapal barang. Lama perjalanannya sendiri itu sekitar 45 menit sampai 2 jam-an (bukan 200 tahun).


Setelah sampai di pelabuhan Sabang, kami mencari rental mobil yang relatif murah disana. Mobilnya hanya Kijang petak yang lama. Aku lupa pastinya berapa harga rentalnya, tapi selama disana kami diajak keliling Sabang dan diantarkan pulang lagi ke pelabuhan dengan mobil rental mobil itu. Kami langsung diantar ke penginapan yang murah di Sabang oleh supir rentalnya. Satu malam Rp 300.000. Sangat murah untuk kamar yang sudah memiliki AC, TV, dan kamar mandi.



Jalanan yang terdapat di Sabang hampir mirip dengan Kota Bandung yang naik-turun. Bedanya, disana sedikit lebih curam.

Inilah tempat-tempat yang aku kunjungi di Sabang:

5. Tugu Kilometer Nol


Dari namanya saja sudah diketahui. Tugu ini merupakan tempat titik nolnya Indonesia bagian barat, dimana seluruh wilayah kilometer Indonesia berawal dari sini. Buat yang mau ke Sabang, wajib hukumnya mengunjungi tempat ini. Sayangnya, prasasti peresmian di tugu ini sudah agak rusak dan dicoret-coret oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Biasanya, tiap tahun ada orang yang touring dari Jawa ke Sabang ini. Mereka mengabadikannya dengan menempelkan batu tulisan kenang-kenangan.  Oh ya, kita juga bisa mendapatkan sertifikat bahwa kita sudah pernah ke tugu kilometer ini. Caranya dengan datang ke dinas pariwisata di Sabang, lalu membayar Rp 15.000 maka sertifikat langsung kita dapatkan.

Ini dia sertifikatku waktu ke kilometer nol!

6. Wisata Pantai di Sabang


Kalo masalah wisata Pantai, Sabang juaranya. Bisa disebut surganya pantai. Ada beberapa pantai yang cukup terkenal di Sabang, Pantai Sumur Tiga, Pantai Pasir Hitam, Pantai Kasih, Pantai Gapang, Pantai Paradiso, Pantai Teupin Layeu, Pantai Iboih dan Pantai Ujung Kareung. Walaupun udah dua kali ke Sabang, aku masih belum bisa menjelajahi semua pantai. Pantai yang udah aku kunjungin yaitu Pantai Sumur Tiga, Pantai Kasih, Pantai Pasir Hitam, dan Pantai Iboih.

Ini waktu di Pantai Sumur Tiga

Gak Jelas di Pantai Sumur Tiga

7. Pulau Rubiah


Pulau Rubiah
Rubiah adalah pulau di seberang Pantai Iboih. Jika nekat, kita bisa sampai di Pulau Rubiah ini dengan berenang dari Pantai Iboih. Pulau Rubiah memiliki spot-spot yang bagus untuk menyelam. Pantai Iboih dan Pulau Rubiah ini juga terkenal dengan keberadaan anak hiu yang biasanya berenang di dekat pantai.

Di video berdurasi lima detik ini kalian bisa melihat warna air dan ombak-ombak kecil di sekitar Pulau Rubiah:



Di pulau rubiah ini keadaannya lebih bebas, Banyak bule yang sedang berjemur di pinggir pantai. Pokoknya bule di Pulau Rubiah ini udah mirip kayak di Bali lah. Mungkin bedanya, beberapa bule di Pulau Rubiah ini fasih berbahasa Aceh.

Lihat warna airnya!
Itulah beberapa tempat yang aku kunjungin di Sabang. Sebenarnya sih masih banyak lagi tempat-tempat wisata. Bagi yang ingin liburan di dalam negeri, Aceh dan Sabang wajib kalian kunjungi. Liburan di Aceh dan Sabang gak kalah kok sama Bali. Feel the view!