Sebuah Perjalanan ke Ciater

Hari pertama masuk kuliah di semester tiga, tidak ada yang berbeda. Kami kuliah seperti biasa, malahan udah dikasih tugas di hari pertama. Setelah kuliah, tanpa basa-basi aku langsung ngomong:

Minggu ini ke ciater yuk?
"Serius nih?" jawab Alvin yang kepalanya sekarang sedang botak. Dia seakan tidak percaya kalo aku menanyakan itu secara tiba-tiba.

"Ya seriuslah"

Ciater adalah daerah yang terkenal dengan pemandian air panas belerang di Jawa Barat. Kami memang sudah merencanakan untuk pergi ke Ciater ketika akhir semester satu yang lalu. Beberapa alasan klasik seperti bentar lagi ujian, lagi gak punya uang, kucing di rumah sedang melahirkan, hingga alasan absurd lainnya yang membuat kami tidak jadi pergi. 

"Kali ini harus jadi, jangan sampe gakjadi" jawabku seperti memaksa kepada teman-teman lainnya.
"Kalau aku sih oke-oke aja" jawab Ichsan.

Beberapa hari setelah pengajakan itu, kami mengajak teman-teman sekelas lainnya. Rencananya kami akan pergi dengan dua mobil. Namun, akhirnya kami akhirnya pergi dengan satu mobil dikarenakan banyak yang tidak bisa ikut.
***

Setelah diputuskan, akhirnya kami berangkat pada hari Jumat malam tanggal 6 Agustus 2014. Kami berkumpul dulu dirumah Ichsan sambil menunggu teman-teman lainnya. Total yang ikut hanya lima orang, yaitu aku, Lamza, Adit, Alvin, dan Ichsan. Masi ingat dengan Dani? Jangan tanya aku kenapa dia gak ikut. 

Di perjalanan menuju Ciater, kami singgah dulu di sebuah rumah makan yang bernama 'Ayam goreng Ampera'. Yang menarik dari rumah makan ini ada foto Anas Urbaningrum bersama putra SBY, Ibas pernah datang di tempat ini. Ternyata tidak hanya mereka berdua saja yang dipajang, dibagian belakang masih banyak foto-foto artis yang pernah datang ke rumah makan ini.

Pesanan yang kami pesan standart, ayam goreng dan usus goreng tanpa memesan minum. Maklum, Budget yang kami miliki pas-pasan. Setelah selesai makan malam, kami melanjutkan perjalanan ke daerah Ciater. Pemandian air panas yang kami pilih adalah Gracia, saingannya mastin (eh, itu Garcia). Alasannya adalah tempat tersebut tidak jauh, lebih murah, dan lebih bagus pemandangannya dari Sari Ater (rencana kami sebelumnya).

"Awas jangan kelewatan, ntar susah mutarnya" kata Ichsan dengan jiwa kebapak-bapakannya.
"Iya" jawab Alvin yang kala itu sedang menyetir

Beberapa menit setelah percakapan itu, terlihat sebuah spanduk bertuliskan pemandian alam Gracia yang berada di sebelah kanan. Setelah berbelok ke kanan, kami dihadapi dengan jalan yang banyak lubangnya. Jalan masuk ke Gracia ini ternyata melewati rumah-rumah penduduk. Kira-kira sekitar lima menit, kami benar-benar sampai di Gracia. 

Harga tiket untuk masuk ke Gracia tergantung apakah kita dewasa atau anak-anak. Harga dewasa Rp 55.000 sedangkan anak-anak Rp 45.000. Sedikit tips biar hemat, sebelum berangkat make-up lah terlebih dahulu agar terlihat seperti anak-anak.

Setelah masuk, kami segera mencari spot tenda dekat dengan kami akan berendam dan segera menanggalkan baju. Pemandangan di dalam pemandian air panas Gracia ini sangat sangat bagus. perpaduannya bagus sekali. Di depan kolam berendam terdapat semacam bar, dan juga terdapat tv yang lumayan besar.

Bersiap-siap untuk berendam



Ada sebuah tv di depan kolam
Kami sempat pindah kolam renang. Kolam renang yang pertama kali kami masukin air nya kurang panas. Akhirnya, kami pindah ke kolam sebelah yang airnya itu lumayan panas. Kata temanku yang pernah ke Ciater sih air yang di Gracia ini kurang panas dari tempat pemandian lain di Ciater. Yaudah, kami nikmatin saja kolam itu sambil menonton film yang terdapat di depan kolam.

Selain menonton, kami juga melakukan beberapa tantangan. Tantangannya adalah mengambil foto dan mengambil teh kotak gratis yang diberikan dengan menukarkan tiket masuk. Beruntung aku selalu menang 'hompimpah'. Kalo gak, bisa gak keliatan fotoku :))

Bukan homo
Gak terasa, ternyata kami sudah berendam selama 2 jam-an lebih! Gila, biasanya orang kalo berendam itu antara setengah jam sampai satu jam. Tangan dan kaki udah keriput, lebih parah dari nenek-nenek. Setelah mengecek apa yang terjadi di dalam celana dalam, sudah dipastikan telor (bukan telur) kami sudah masak. Akhirnya kami naik ke atas dan segera mandi air tawar. Eits, disini ada tantangan lagi. Yang kalah, harus jagain tas dan tenda kami.

"Hompimpah alaihum gambreng"
"Horee aku menang"

Lagi-lagi aku lagi yang duluan menang. Dengan berat hati, Ichsan dan Adit harus menjaga di tenda. Sedangkan aku, Lamza, dan Alvin dengan mulus melaju ke senayan.

Setelah semuanya selesai mandi, kami sempat berfoto-foto di depan pintu masuk Gracia. Sempat ganti-gantian fotonya. Kami sempat meminta tolong satpam yang jaga untuk foto kami. Hasilnya? zzz.

Hasil jepretan satpam
Sekitar jam setengah dua pagi, kami segera pergi ke villa Ichsan untuk beristirahat. Villa Ichsan memiliki dua kamar. Kami hanya menempati satu kamar saja, karena kamar sebelahnya lagi ada dapur kosong. Kami semua memang penakut, terutama aku. Aku aja nonton sponge bob episode flying dutch man aja ketakutan.

Paginya, kami keliling-keliling melihat halaman sekitar. Setelah itu bersiap-siap untuk pulang ke Bandung. Ada yang mandi, ada yang lanjut tidur (loh?). Setelah semua barang dimasukkan ke mobil, kami sempat mengabadikan beberapa foto:



Udah kayak model endorse
Gaya foto abad ini
Adit sang pemfoto
Di perjalanan pulang, kami sarapan dulu di daerah lembang. Aku dan Ichsan hanya memesan indomie, sedangkan yang lainnya memesan nasi goreng. Aku merasa beruntung, harga indomie hanya Rp 10.000 sedangkan nasi goreng pake ayam yang ada rasa kecoaknya itu harganya Rp 25.000.

Setelah selesai makan, kami langsung tancap pulang ke Bandung. Liburan kali ini terasa sederhana namun berkesan karena kami meninggalkan jejak dan melaluinya bersama.

Sampai jumpa di liburan selanjutnya!