Pertama Kali Masuk ke Dalam Istana Maimun: HORROR!

Sebelum postingan ini dimulai, mumpung masih di bulan Syawal, alangkah baiknya aku mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Hari raya Idul Fitri telah berakhir. Semua orang mudik ke kampung halamannya masing-masing untuk berkumpul dan saling bermaaf-maafan. Aku juga telah melakukan itu semua. Hari pertama lebaran dihabiskan kumpul dirumah nenek, hari kedua berkunjung ke rumah-rumah saudara. Hari ketiga? Aku berkunjung ke Istana Maimun.

Kali ini aku mau ngasih cerita tentang bangunan bersejarah yang ada di kota Medan. Ada dua tempat yang kusinggahi, yaitu Istana Maimun dan Museum Tjong A Fie. Oke, kali ini aku mau ngasih cerita waktu ke Istana Maimun dulu.

Sebagai seorang anak yang lahir di Kota Medan dan memiliki sebagian darah Melayu, aku sama sekali belum pernah masuk ke dalam Istana Maimun. Aku hanya pernah masuk ke dalam halamannya dan berfoto diluar. Itu pun hanya sekali.

Istana Maimun

Untuk masuk ke dalam Istana Maimun, kita hanya perlu mengeluarkan uang lima ribu rupiah. Uang tersebut digunakan untuk menjaga kebersihan disekitar Istana Maimun. Untuk sebuah tempat bersejarah, aku rasa harga tiketnya terbilang cukup murah.

Istana Maimun merupakan salah satu ikon tempat wisata di Kota Medan. Bangunan ini bercirikan kerajaan Melayu Deli. Arsitektur bangunan merupakan perpaduan antara ciri arsitektur dari Spanyol, Timur Tengah, India, Belanda, dan tentunya Melayu. Jangan tanya berapa umur bangunan ini, yang pasti sih sudah sangat lama.

Pada awal-awal kemerdekaan Indonesia, istana ini dihuni oleh para ahli waris kesultanan deli. Dalam waktu-waktu tertentu, di Istana Maimun ini sering diadakan perunjukan musik yang tentunya adalah musik tradisional Melayu.

Di dalam istana ini, aku bisa melihat koleksi-koleksi yang dipajang di dalam istana. Di ruang pertemuan misalnya terdapat koleksi foto-foto keluarga sultan, perabotan rumah tangga dengan nuansa kolonial, dan juga terdapat berbagai senjata.

Aku merasa agak sedih ketika melihat bagian halam luar di Istana. Rumput-rumput di tanah banyak yang ditimpa oleh plastik botol minuman. Dalam kata lain, kebersihan di Istana Maimun ini kurang terawat. Keluarga sultan memang kurang dana dalam mengelolanya. Mereka hanya mengandalkan sumbangan dari pengunjung sebesar lima ribu rupiah yang menjadi harga tiket.

Di dalam istana juga terdapat tempat untuk menyewakan pakaian kerajaan Melayu Deli. Karena sedang hari libur, pengunjung yang datang ke Istana Maimun sangat banyak sehingga banyak juga orang yang mengantri untuk menyewa pakaian. Kami satu keluarga besar pun menyewa pakaian tersebut. Untuk menyewa pakaian kerajaannya pun harganya sangat murah. Satu orang hanya perlu membayar Rp 10.000

Ada kejadian menarik yang terjadi. Ketika keluarga kami hendak berfoto satu keluarga, ada tiga orang warga negara asing yang kepincut dengan penampilan kami yang ramai di depan tempat pelaminan. Tiga orang warga negara asing tersebut minta berfoto dengan kami. Mereka ganti-gantian berfotonya. Sayangnya, hanya aku sendiri yang tidak kebagian ikut berfoto dengan warga negara asing tersebut. Aku masih menunggu pakaian untuk dipakai.

Setelah pakaian terpasang, jiwa narsisku pun keluar. Merasa sangat tertinggal karena terakhir yang dipasang pakaiannya, aku menyuruh abangku untuk memfoto aku sendiri di sekitar tempat pelaminan. Hehehe.

Udah kayak pangeran belum?
Ya, aku gak foto sendiri terus-terusan. Aku juga berfoto sama adik, abang, dan mamaku.




Setelah selesai sesi berfoto, kami pun keluar dari Istana Maimun. Kami berencana untuk minum yang dingin-dingin di sekitar kawasan Istana Maimun, maklum Medan itu SANGAT SANGAT PANAS!
Ada kejadian menarik juga ketika kami sedang minum. Tante aku melihat sosok penampakan perempuan menggunakan mahkota kerajaan yang berdiri dibelakang diantara abangku dan adikku. Kepala perempuan tersebut nongol ditengah tengahnya. Setelah dicek, disela-sela bolong bagian kaki abangku dan adikku tidak terdapat kaki perempuan tersebut.

yang ditandai merah, itulah sosoknya

Saat itu aku langsung merinding. Aku memang tidak ikut berfoto, dan selama keluargaku foto-foto bersama orang asing, aku juga tidak melihat perempuan memakain baju kerajaan berwarna kuning. Hanya keluarga kami yang menggunakan baju kerajaan warna kuning. Aku yakin seratus persen tidak ada orang selain kami yang menggunakan baju warna kuning, karena ketika aku menunggu pakaian aku juga berdiri di depan ketika keluarga kami berfoto. Setelah kejadian itu, semuanya menjadi parno. Siapakah sosok perempuan itu?

No comments:

Post a Comment