Medan dan Bandung Beserta Keunikannya

Banyak orang yang belum tau tentang kota Medan. Masih ada aja yang mengira kota Medan itu seperti hutan belantara. Aku pernah dengar orang ngomong ini ketika pertama kali sampai di kota Bandung. Padahal, Medan ini kota terbesar ketiga atau keempat di Indonesia. Ada yang bilang Bandung kota ketiga, ada juga yang bilang Medan kota ketiga terbesar di Indonesia. Bagaimana coba bisa disebut kayak hutan belantara, itu kota terbesar ketiga atau keempat lo! Liat aja, sekarang di Medan punya Bandara baru. Bandara ini merupakan bandara terbesar kedua setelah Soekarno-Hatta.

Bandara Kualanamu

Ada lagi yang bilang kalo Medan itu identik dengan batak. Anggapan itu sebenarnya salah. Suku asli di kota Medan itu sebenarnya Melayu, orang batak lah yang merantau datang ke Medan. Lihat saja, di Medan itu yang ada Istana Maimun, bukan Istana batak. Jadi, sebenarnya Medan itu tanah deli, bukan tanah batak.

Mengenai bahasa, bahasa yang digunakan di kota Medan ini adalah bahasa Indonesia. Namun, ada beberapa kata yang dimodifikasi yang sering digunakan di Medan. Kalo kalian bukan orang Medan, pasti kalian akan sulit mengerti kata tersebut. Contohnya adalah kata "Cok dan Cem". Cok artinya adalah coba, sedangkan cem adalah seperti/kayak

Eh, cok pinjam pulpen mu.
Maksud kata diatas adalah "Eh, coba tolong pinjam pulpenmu"

Eh, si Borjonk gayanya kok kayak gitu. Cem orang gila kutengok
Maksud nya adalah "Eh, si Borjonk gayanya kok gitu? Aku lihat seperti orang gila dia"


Kira-kira begitulah contoh kata yang ada di Medan. Masih banyak kata-kata lain yang lebih unik dari ini, contohnya ada bereng, sarap, sor, enceng dan lain-lain.

Ketika aku sampai  di Bandung, banyak hal-hal baru yang kulihat. Pertama mengenai angkutan umum. Cara orang bilang mau berhenti disini adalah KIRI A'/Pak. Sedangkan di Medan adalah PINGGIR BANG. Tukang angkot di Bandung pun masih lumayan tertib. Kalo di Medan, hanya tuhan dan supir angkotnya lah yang tau kapan angkot tersebut mau belok.

Lalu dari segi trayek dan nomor. Di Bandung, orang mengetahui trayek yang dituju dengan melihat warna angkutan umum tersebut. Kalo di Medan, kita melihat warna sekaligus nomor (karena ada angkot warna biru dan kuning yang memiliki nomor yang sama).

Yang kedua mengenai kata kepemilikan. Di Bandung kata kepemilikan saya bisa disebut aing, abdi, urang, gue (katanya, sebagian anak gaul menggunakan 'gue) dan lain-lain. Kamu bisa disebut maneh, sia, lo dan lain-lain. Sedangkan di Medan, hanya ada satu kata panggilan saya dan satu panggilan kamu. Yaitu adalah 'Aku' dan 'Kau'. Kelihatannya memang agak kasar, tapi semua orang Medan menggunakan kata itu. Kalo ada yang bilang 'gue' atau 'lo', hmm orang tersebut pasti diasingkan ke Rengasdengklok.
***

Ternyata, gak semua kata dalam bahasa Indonesia itu memiliki makna yang sama. Kata tersebut bisa saja memiliki makna yang berbeda di kota lain. Ini adalah beberapa kata yang pernah aku gunakan di Bandung, tapi memiliki makna yang berbeda.

1. Kereta

Bagi orang yang tinggal di Jawa, kalo denger kata kereta pasti langsung mikir itu kereta api. Di Medan, arti kereta sendiri itu adalah sepeda motor. Kalo mau nyebut kereta api ya sebutnya kereta api juga. Aku baru tau ketika aku cerita pengalamanku jatuh dari sepeda motor
Teman: 'Eh gigimu kenapa bal agak sompel gitu?'

Aku: 'Iya, pas deket-deket UN aku jatuh dari kereta'

Teman: 'HAH? Gila seram amat. Kok bisa selamat?! Gimana ceritanya?'
Temanku mengira kalo aku jatuh dari kereta api. Ya Allah, kalo itu beneran terjadi, bukan gigiku aja yang sompel. Badan sampe usus-ususnya pasti bakalan sompel.


2. Pipet

Di Medan, pipet artinya adalah sedotan untuk meminum. Sedangkan di Bandung, pipet berarti pipet yang ada di laboratorium.


3. Semalam

Orang Medan bilang hari sebelumnya itu adalah semalam. Ini membuat anak Bandung salah tafsir. Mereka mikirnya kalo semalam itu ya benar-benar hari kemarin di malam hari. Kalo anak Medan mengartikannya semalam itu hari kemarin tapi bisa kapan aja, bisa  pagi, siang, atau malam.
Teman: 'Eh, kelas bu Santi katanya udah nge-ganti kelas ya? Kapan?'

Aku: 'Semalam gantinya...' (maksudnya kemarin)

Teman: 'Hah? kenapa kuliahnya diganti jadi malam?'

Kira-kira begitulah salah tafsirnya.

4. Rol

Semua orang Medan pasti tau apa arti dari rol. Rol itu berarti penggaris. Kalo kita tanya orang Bandung, mereka pasti akan kebingunan. Karena, menurut mereka, rol itu sesuatu yang bisa di roll-ing, contohnya adalah deodorant. Aku kemarin lagi ujian mencoba meminjam rol/penggaris. Jadi begini hasilnya:
Aku: 'Boleh pinjam rol-mu gak?'

Teman: 'Apa? rol? ngapain juga aku bawa rol...'

Aku: 'Anak kuliah wajarlah bawa rol -__-'

Teman: 'Rol yang mana nih?'

Aku: 'Itu loh, penggaris.'

Teman: 'Oh, kirain aku deodorant... hehehe'
***

Sebenarnya, Bandung pun gak kalah unik dengan Medan. Di Bandung, kata goblok pun bisa jadi tanda baca dan anjing menjadi tanda tanya. Misalnya: "Eh goblok kemana aja 'njing" ('goblok' menjadi tanda koma, sedangkan 'njing' mejadi tanda tanya). Anehnya, orang Bandung tidak akan marah jika kita ngomong begitu. Kita bandingkan dengan di Medan. "Eh bodoh, kemana aja kau anjeng" (bodoh dan anjing memiliki makna yang menghina). Pasti orang yang dibilang begitu langsung balas dengan nada marah dan emosi. Tingkat paling parah sih mobil ambulans datang.


Tiap-tiap kota memang memiliki keunikan. Keunikan tersebutlah yang membuat suatu kota berbeda dengan kota lainnya. Tapi, menurutku kota paling unik ya Medan :))

Ada orang Medan juga gak? Punya hal unik yang lainnya gak? Komen ya dibawah :))

No comments:

Post a Comment